Ribuan Personel dan Operasi Modifikasi Cuaca Terus Digencarkan, Karhutla di Kalimantan dan Sumatera Masih Jadi Prioritas



Pengendalian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah prioritas masih berlangsung intensif. Tim gabungan terus berupaya menekan sisa titik api yang tersebar di Pulau Kalimantan dan Sumatera, dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat, daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, hingga masyarakat.

 

Berdasarkan pemutakhiran data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu, 25 Oktober 2026, luas lahan yang masih dalam penanganan di tiga provinsi Kalimantan mencapai 3.392 hektare. Kalimantan Tengah menjadi wilayah terluas dengan 2.458 hektare, diikuti Kalimantan Barat 884 hektare, dan Kalimantan Selatan 52 hektare. Di Sumatera, pada periode yang sama, total area dalam penanganan di tiga provinsi sekitar 990 hektare, terdiri dari Sumatera Selatan sekitar 889 hektare, Jambi 89 hektare, dan kawasan Taman Nasional Way Kambas di Lampung sekitar 12 hektare. Riau saat itu tidak tercatat adanya aktivitas pemadaman aktif.

 

Untuk menghadapi situasi ini, sebanyak 57.050 personel darat disiagakan di enam provinsi di bawah koordinasi pos komando masing-masing. Rinciannya mencakup 16.387 personel di Kalimantan Tengah, 14.458 di Kalimantan Barat, 12.285 di Sumatera Selatan, 7.927 di Kalimantan Selatan, 5.984 di Jambi, dan sembilan personel di Lampung. Mereka dilengkapi peralatan lengkap mulai dari selang pemadam, pompa portabel dan punggung, nozel, sepatu bot, pemukul api, hingga radio komunikasi.

 


Dukungan udara juga diperkuat dengan 61 unit armada yang diperbarui datanya per 26 Oktober 2026. Dari jumlah itu, 24 unit digunakan untuk patroli, pesawat CASA, dan operasi modifikasi cuaca (OMC), sementara 37 unit helikopter siap melakukan water bombing atau pengeboman air.

 

Salah satu strategi unggulan adalah OMC yang memanfaatkan dry ice dan natrium klorida. Data pelaksanaan per 23 Oktober mencatat total 15 sortie dengan penggunaan 14.300 kilogram bahan semai. Di Kalimantan Tengah, delapan sortie menggunakan 7.200 kilogram bahan (5.200 kg dry ice dan 2.000 kg NaCl). Di Sumatera Selatan, tujuh sortie memakai 7.100 kilogram bahan semai, dan hasil pemantauan menunjukkan jarak pandang yang membaik menjelang siang. Di Kalimantan Barat, hujan ringan hingga sedang sempat terjadi di tujuh kabupaten, termasuk wilayah sasaran seperti Sekadau, Ketapang, dan Sintang. Kalimantan Selatan juga melaporkan hujan di Kabupaten Kotabaru pada hari yang sama.

 

Pelaksanaan OMC selalu disesuaikan dengan kondisi atmosfer setempat. Upaya ini menjadi bagian integral dari strategi terpadu bersama operasi darat dan udara. Dalam perkembangan lebih lanjut, hujan alami mulai mengguyur sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan sejak 25 Oktober, yang dinilai sebagai momentum strategis untuk meningkatkan efektivitas OMC.

 

Di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, penanganan melibatkan BPBD Kabupaten Lampung Timur, pengelola TNWK, tim BNPB, TNI, Polri, mitra terkait, dan masyarakat. Api pertama kali terdeteksi pada 22 September 2026 di wilayah SPTN II Bungur. Helikopter water bombing mulai bertugas sejak 25 September. Hingga 22 Oktober tercatat 11 hektare terbakar dengan lima hektare belum padam, lalu pada 24 Oktober pukul 06.44 terdapat 34 titik dengan 16 hektare belum padam.

 

Strategi di lapangan mencakup pembagian personel berdasarkan daerah operasi, penguatan sekat bakar, serta pemantauan rutin. Drone termal dan pos pantau darat digunakan untuk mendeteksi bara tersembunyi di lahan gambut. Pompa jinjing dan instalasi selang air hampir tiga kilometer membantu menyalurkan air ke titik kritis. Integrasi data dari helikopter, laporan darat, satelit, dan prakiraan BMKG menentukan prioritas pemadaman sekaligus mencegah penjalaran baru. Personel diingatkan selalu memperhatikan medan, arah dan kecepatan angin, serta prosedur keselamatan.

 


Sementara itu, di kawasan Arjuno-Welirang, Jawa Timur, penanganan melibatkan BPBD Provinsi Jawa Timur, Tahura Raden Soerjo, Perhutani, BPBD kabupaten terkait, Manggala Agni, masyarakat peduli api, dan relawan. Kebakaran mulai terdeteksi 16 Oktober 2026 di Gunung Ringgit, Prigen. Jumlah titik api sempat mencapai puncak 291 pada 19 Oktober dan menjalar ke wilayah Malang. Upaya sekat bakar dan penyisiran dilakukan pada 20–22 Oktober. Per 25 Oktober dini hari, total luas sejak awal mencapai 1.090 hektare dengan 11 titik tersisa di Bumiaji. Koordinasi antarpihak dan pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan api. Dalam perkembangan terkini, hujan deras di kawasan tersebut berhasil memadamkan seluruh titik api, meski patroli tetap dilanjutkan untuk mengantisipasi kemunculan kembali.

 

Di tengah upaya penanganan karhutla, masyarakat di Aceh dan Sumatera Utara diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Dinamika atmosfer dipengaruhi bibit siklon tropis 98B di Teluk Benggala yang mendukung pertumbuhan awan konvektif. Potensi hujan lebat hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang lokal dapat terjadi pada siang hingga malam hari. Risiko banjir, banjir bandang, dan tanah longsor meningkat. Masyarakat diminta mengamankan benda yang mudah diterbangkan, menghindari berteduh di bawah pohon atau bangunan berisiko, serta memperhatikan informasi cuaca dan gelombang sebelum melaut. Bagi yang tinggal di lereng dan perbukitan, kewaspadaan perlu ditingkatkan saat hujan berlangsung lama atau intensitas tinggi.

 

Seluruh upaya ini mencerminkan respons terpadu yang terus disesuaikan dengan kondisi lapangan yang dinamis. Kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi seperti OMC dengan dry ice menjadi kunci untuk menekan dampak karhutla sekaligus melindungi masyarakat dan lingkungan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama