Membaca dulunya diidentikkan sebagai aktivitas kesendirian. Sebuah ritual personal yang dilakukan perlahan sebelum tidur, pengisi waktu luang di dalam gerbong kereta, atau pemandangan lazim saat seseorang bersantai di bawah payung pantai. Namun, dinamika itu kini bergeser secara signifikan.
Di tengah hiruk-pikuk kawasan
populer di Melbourne, Australia, lebih dari 100 orang berkumpul di sebuah ruang
komunitas bernama Tender. Mereka tidak datang untuk berdansa atau minum
hingga larut malam. Selama beberapa jam, masing-masing sibuk menyelami lembaran
buku yang dibawa dari rumah, diiringi alunan musik dari daftar putar yang telah
dikurasi khusus. Saat sesi membaca usai, Grant Krupp, sang penyelenggara,
memberikan ruang bagi para peserta untuk saling berinteraksi, meski mereka yang
masih ingin tenggelam dalam bacaannya tetap dipersilakan melanjutkan.
Krupp menamai rangkaian acara
ini sebagai "Book Doof".
Istilah ini diadaptasi dari budaya bush doof di Australia, pesta dansa ruang
terbuka yang identik dengan dentuman musik elektronik. Sejak pertama kali
diluncurkan pada Oktober 2025, Krupp telah menggelar belasan kali Book Doof di
Melbourne dan Perth. Fenomena ini menunjukkan bahwa buku kini merambah dunia
sosial dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dari Tren Analog hingga Gaya Hidup Baru
Konsep klub buku tradisional
memang sudah lama ada, tetapi gerakan social reading modern menawarkan
pendekatan yang lebih fleksibel dan beragam. Tren ini tidak hanya hadir di
Australia. Di berbagai kota besar dunia, membaca bersama dikemas menjadi
beragam bentuk kegiatan sosial: retret membaca di alam terbuka, jamuan makan
malam bertema sastra, hingga acara jalan santai bersama para penulis.
Para penyelenggara menilai ada
perpaduan alasan di balik tingginya antusiasme masyarakat. Selain dorongan
untuk mencari keramaian dan ruang komunitas baru, banyak orang mulai mencari
alternatif bersosialisasi yang lebih sehat tanpa efek pusing atau lemas
keesokan harinya akibat alkohol.
Di Amsterdam, organisasi The
Offline Club menyebut pesta membaca yang mereka adakan sebagai bentuk
perlawanan halus terhadap dominasi perusahaan teknologi raksasa. Kegiatan ini
hadir sebagai penawar dari kelelahan mental
akibat kebiasaan terus-menerus menatap layar gadget.
Buku dianggap sebagai simbol
utama dari kerinduan masyarakat terhadap pengalaman analog. Pandangan ini
diaminisir oleh Mikey Friedman, pendiri komunitas Page Break yang berbasis di
New York. Komunitas ini rutin mengadakan agenda liburan akhir pekan untuk
membaca buku bersama secara lantang di kawasan terbuka, seperti Pegunungan
Adirondack hingga Taman Nasional Joshua Tree di California.
Di sudut kota lain, lanskap aktivitas sosial ini
berkembang makin unik:
·
Grain of Salt
(Los Angeles): Menyelenggarakan maraton membaca selama 8 jam yang
dipadukan dengan jamuan makan malam empat hidangan.
·
Preoccupied
(Los Angeles): Mengajak anggotanya berdiskusi sambil berjalan santai
mengelilingi kota bersama penulis buku.
·
Tren "Bookstore
Crawl" (Florida): Menjelajahi satu toko buku ke toko buku
lainnya sebagai pengganti rute berpindah-pindah bar.
Jawaban di Tengah Krisis Literasi?
Menariknya, kepopuleran
fenomena social reading meledak di tengah kekhawatiran global mengenai penurunan
minat dan kemampuan membaca. Laporan akademis dan artikel media massa
belakangan kerap menyoroti kemerosotan skor literasi, serta berkurangnya orang
yang membaca demi kesenangan. Banyak mahasiswa disebut makin kesulitan mencerna
teks panjang dan mengikuti alur argumen tebal secara runtut.
Namun, fakta di lapangan
menunjukkan respons sebaliknya terhadap acara membaca bersama. Seluruh tiket
retret yang diselenggarakan Page Break selalu habis terjual. Begitu pula dengan
maraton membaca Grain of Salt dan gelaran Book Doof milik Krupp yang memadati
kelab-kelab malam ikonis seperti Revolver dan Section 8.
Friedman mengungkapkan bahwa
acaranya berhasil menarik minat luas dari kalangan seniman, pencinta sastra,
hingga komunitas lintas generasi rentang usia 25 hingga 60 tahun. Uniknya, para
peserta tidak selalu harus seorang pembaca fanatik. Kehadiran elemen pendukung,
seperti sajian kuliner dari koki kenamaan, kegiatan mendaki, hingga sesi
bincang-bincang santai dengan penulis, menjadi daya tarik tersendiri yang
membuat suasana tidak terkesan kaku.
Pergeseran ini juga didorong
oleh tren budaya pop di media sosial. Tagar buku di platform digital,
pencantuman judul bacaan favorit pada profil aplikasi kencan, hingga gaya para
selebritas yang kerap terlihat membawa novel tebal di ruang publik, makin
mengukuhkan posisi membaca sebagai bagian dari gaya hidup modern.
Antara Tren Gaya Hidup dan Dampak Nyata
Meski respons publik sangat
positif, sebagian pengamat di dunia maya sempat melontarkan kritik. Fenomena
ini kerap dinilai sekadar sarana pencitraan sosial untuk memperlihatkan citra
diri tertentu di depan publik.
Menanggapi kritikan tersebut,
Krupp menyikapi dengan santai. Ia sangat sadar bahwa aktivitas ini memang
sedang menjadi tren sosial. Namun baginya, fakta bahwa banyak orang akhirnya
kembali memegang dan membaca buku adalah sebuah pencapaian yang patut
dirayakan, terlepas dari apa pun motivasi awal mereka.
Pandangan ini juga didukung
oleh para pakar literasi. Andrew Ettinger, Direktur Pendidikan di National
Literacy Trust Inggris, menilai bahwa ruang-ruang membaca bersama ini membawa
dampak positif yang nyata. Kehadiran acara semacam ini mampu memicu percakapan
baru di tengah masyarakat mengenai buku dan kegiatan membaca, yang pada
akhirnya secara perlahan dapat membangun kembali kebiasaan membaca di tingkat
individu. (cnn.com)




Posting Komentar