Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, masih menjadi salah satu wilayah yang harus waspada terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan. Pada Minggu, 23 Agustus 2026, tim gabungan terus bergerak melakukan pemadaman dan pengendalian di sejumlah titik, terutama di Kecamatan Arut Selatan. Fokus utama diarahkan pada lahan gambut yang dikenal sulit dipadamkan karena bara api sering bertahan di bawah permukaan meski kobaran di atas tampak padam.
Salah satu lokasi yang menjadi
perhatian berada di perbatasan Jalan Pasir Panjang–Kumpai Batu Atas, Desa Pasir
Panjang. Kebakaran di sana diperkirakan telah melanda sekitar 20 hektare lahan,
meski perhitungan keseluruhan masih berlangsung. Hingga saat ini, sekitar dua
hektare berhasil dipadamkan. Karakteristik gambut dalam membuat proses
pendinginan berlangsung lebih lama dan menuntut pemantauan ketat agar api tidak
kembali menyala dan meluas.
Di lokasi lain, area Pialun 1
di desa yang sama, tim berhasil mengendalikan kebakaran seluas sekitar tiga
hektare. Satu hektare di antaranya sudah dipadamkan, dan kondisi terkini
dinyatakan aman. Lahan di sini terdiri atas campuran gambut dan mineral, sehingga
penanganannya sedikit berbeda dibandingkan area gambut murni.
Pemadaman dilakukan secara
terpadu. Personel TNI AL bersama unsur terkait dalam Satgas Karhutla saling
mendukung dalam upaya pemadaman, pendinginan, serta pencegahan. Kerja sama ini
penting mengingat sebaran titik panas yang masih terpantau. Berdasarkan data
hingga Sabtu, 23 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB, terdapat 26 titik panas di
Kabupaten Kotawaringin Barat. Sebanyak 21 di antaranya berada di Kecamatan Arut
Selatan, sementara lima titik lainnya terdeteksi di Kecamatan Kumai. Kecamatan
lain seperti Arut Utara, Kotawaringin Lama, Pangkalan Banteng, dan Pangkalan
Lada tercatat nihil.
Tantangan di lahan gambut
memang menjadi karakteristik utama karhutla di banyak wilayah Kalimantan. Api
tidak hanya merambat di permukaan, tetapi juga menyimpan panas di lapisan bawah
yang bisa menyala kembali jika tidak ditangani tuntas. Oleh karena itu, selain
memadamkan, tim terus melakukan pemantauan dan penyekatan agar titik api tidak
mendekati area yang lebih luas atau mengancam aktivitas masyarakat.
Upaya terpadu ini akan terus
dilanjutkan. Sinergi antarunsur di lapangan menjadi kunci untuk menahan laju
kebakaran sekaligus melindungi keselamatan warga dan kelestarian lingkungan di
Kotawaringin Barat. Pemantauan hotspot dan respons cepat di tingkat lokal tetap
menjadi bagian penting dalam menghadapi musim kemarau yang masih berlangsung.

Posting Komentar