Lonjakan Wisatawan Asing Tembus 25 Ribu Orang Jelang Konser Ye (Kanye West)


Konser Ye (Kanye West) di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Sabtu, 24 Oktober 2026, tidak hanya menjadi tontonan musik. Perhelatan ini memicu gelombang kedatangan warga negara asing yang terasa langsung di pintu masuk Indonesia. Data Direktorat Jenderal Imigrasi menunjukkan tren lonjakan yang jelas sejak tiga hari sebelum acara hingga hari-H.


Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko merinci angka-angka tersebut. “Kami mencatat tren lonjakan pelintas asing, terutama di H-3 konser. Lonjakan signifikan kedatangan WNA sebanyak 1.000 orang pada 21 Oktober, 4.700 orang pada 22 Oktober, dan mencapai puncaknya pada 23 Oktober dengan 10.000 orang per hari.” Pada hari konser sendiri, 24 Oktober, angka masih tinggi dengan 9.700 pelintas mancanegara.

 

Jakarta menjadi satu-satunya kota di Asia Tenggara dan Oseania yang dipilih Ye untuk tur tahun ini. Pilihan ini langsung berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Data Aplikasi Pelaporan Orang Asing (APOA) menunjukkan kenaikan okupansi hotel di sejumlah titik di ibu kota selama periode konser. Bukan hanya artis dan kru yang datang. Penggemar dari berbagai negara ikut memenuhi bandara, hotel, restoran, dan pusat perbelanjaan.

 


Imigrasi menerbitkan 88 visa sport and performer untuk Ye beserta rombongan kru. Hendarsam menekankan efek berganda dari kehadiran mereka. “Imigrasi menerbitkan 88 visa sport and performer bagi Ye beserta rombongan kru yang terlibat. Namun ketika musisi dunia tampil di Indonesia, yang datang bukan hanya artis dan kru, tetapi juga penggemar dari berbagai negara. Mereka menggunakan transportasi, menginap di hotel, menikmati kuliner, hingga berbelanja. Artinya, ada banyak sektor ekonomi yang ikut bergerak. Imigrasi hadir untuk memastikan kedatangan mereka berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi masyarakat.”

 

Untuk mengantisipasi volume tinggi, bandara mengoptimalkan fasilitas autogate bagi pelintas yang memenuhi syarat. Di sisi lain, pengawasan di lapangan diperketat. Personel Imigrasi disiagakan di area GBK selama konser berlangsung. Tujuannya memantau kesesuaian izin tinggal warga negara asing dan mencegah pelanggaran keimigrasian tanpa mengganggu kelancaran acara.

 


Perhelatan berskala internasional seperti ini dipandang sebagai peluang untuk memperkuat posisi Jakarta sebagai destinasi music tourism. Melalui penerbitan visa yang terukur, pelayanan perlintasan yang efisien, dan pengawasan yang tetap ketat, Imigrasi menyatakan kesiapan menyambut acara-acara besar berikutnya. Hendarsam menutup dengan penegasan bahwa kemudahan harus selalu seimbang dengan keamanan.

 

“Jakarta telah menunjukkan potensinya sebagai panggung konser musik dunia. Kami ingin semakin banyak kegiatan internasional hadir di Indonesia dan membawa manfaat bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan semangat Imigrasi untuk Rakyat, bagaimana kami memberikan pelayanan yang mudah dan modern, sekaligus memastikan pengawasan keimigrasian tetap berjalan optimal.”

 

Lonjakan ini menjadi bukti nyata bahwa konser kelas dunia mampu menggerakkan lebih dari sekadar industri hiburan. Ia membuka aliran devisa, menghidupkan ekonomi lokal, dan sekaligus menguji kesiapan sistem keimigrasian Indonesia dalam mengelola arus orang asing secara aman dan efisien.


Post a Comment

أحدث أقدم