Api Menyala di Tengah Kemarau: Karhutla Melanda Sejumlah Wilayah Sulawesi dan Kalimantan



Musim kemarau yang dipicu fenomena El Niño kuat terus menjadi ancaman serius di berbagai daerah. Dalam rentang dua hari saja, Kamis hingga Jumat (10–11 September 2026), kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di beberapa titik di Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Meski sebagian besar berhasil dikendalikan cepat, peristiwa ini mengingatkan betapa mudahnya lahan kering berubah menjadi sumber bencana yang merugikan lingkungan, kesehatan, dan aktivitas warga.

 

Di Kabupaten Toli-toli, Sulawesi Tengah, titik api pertama terdeteksi di Desa Silondu, Kecamatan Basi Dondo, pada Kamis (10/9). Api menghanguskan sekitar 3,6 hektare lahan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat bersama tim gabungan segera mengerahkan petugas pemadam. Upaya intensif membuahkan hasil: pada Jumat (11/9) api dinyatakan padam sepenuhnya. Kejadian ini menjadi catatan karhutla yang menonjol di wilayah tersebut dalam periode tersebut.

 

Tidak jauh dari situ, di Kabupaten Mahakam Hulu, Kalimantan Timur, api menyala sekitar pukul 18.50 WITA di Desa Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun. Lahan seluas satu hektare terbakar. Tim pemadam berhasil memadamkannya keesokan hari. Penyebab pasti masih diselidiki pihak berwenang, sejalan dengan pola umum di banyak wilayah di mana pembukaan lahan atau kelalaian sering menjadi pemicu.

 



Sementara di Sulawesi Selatan, dua kota mengalami kejadian serupa. Di Kota Parepare, api muncul di kawasan perumahan Kelapa Gading, Kelurahan Galung Maloang, Kecamatan Bacukiki, pada Jumat (11/9). Sekitar satu hektare lahan terbakar. Tim gabungan BPBD Kota Parepare dan Dinas Pemadam Kebakaran setempat bergerak cepat hingga situasi kembali terkendali dan aman.

 

Di Kota Palopo, warga melaporkan titik api di Kelurahan Sendana, Kecamatan Sendana, pada hari yang sama. Karena kondisi lahan yang sangat kering, api merambat dengan cepat dan menghabiskan sekitar dua hektare. Pantauan lapangan menunjukkan kecepatan penyebaran yang mengkhawatirkan jika tidak segera ditangani.

 

Kejadian-kejadian lokal ini terjadi di tengah situasi nasional yang masih kritis. September 2026 diperkirakan masih berada di fase puncak risiko karhutla akibat El Niño yang kuat, dengan kondisi kering yang bertahan di banyak wilayah. Data dari berbagai daerah menunjukkan ratusan kejadian sepanjang musim kemarau, dengan total lahan yang terdampak mencapai ribuan hektare di Sulawesi Selatan saja hingga awal September. Dampaknya tidak sebatas kerusakan vegetasi: kabut asap menurunkan kualitas udara, memicu gangguan pernapasan, mengganggu aktivitas ekonomi, dan memengaruhi kehidupan sosial masyarakat.

 



Menyikapi ancaman hidrometeorologi kering ini, imbauan kewaspadaan terus digaungkan. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan, termasuk untuk membuka lahan pertanian atau kebun. Praktik tersebut, meskipun terasa praktis dalam jangka pendek, sering menjadi sumber api yang sulit dikendalikan dan berujung pada kerugian jauh lebih besar.

 

Setiap warga juga didorong segera melaporkan titik api atau indikasi kebakaran kepada pihak berwenang. Penanganan dini terbukti mampu membatasi luas lahan yang terbakar, seperti yang terlihat dalam penanganan cepat di Toli-toli, Mahakam Hulu, Parepare, dan Palopo. Kerja sama antara masyarakat, BPBD, dan instansi terkait menjadi kunci agar musim kemarau tidak berubah menjadi musim bencana berulang.

 

Karhutla bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah pengingat bahwa kelestarian lingkungan dan keselamatan bersama bergantung pada kesadaran serta tindakan kolektif sejak dini. Dengan tetap waspada dan saling menjaga, dampak buruk dapat diminimalkan sebelum api semakin meluas.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama