Dicegat di Laut Internasional, Relawan Indonesia Ungkap Kekerasan Militer Israel Saat Misi Kemanusiaan ke Gaza


9 Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 akhirnya kembali ke tanah air setelah mengalami penahanan dan tindakan represif dari militer Israel saat berupaya menyalurkan bantuan kemanusiaan menuju Gaza, Palestina.

 

Misi tersebut merupakan bagian dari gerakan solidaritas internasional yang membawa bantuan dan dukungan moral bagi warga Gaza yang hingga kini masih menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan akibat konflik dan blokade. Namun perjalanan para relawan terhenti setelah kapal mereka dicegat aparat militer Israel di kawasan Mediterania Timur.

 

Menurut kesaksian para relawan, kapal yang mereka tumpangi diintersep di wilayah perairan internasional sebelum seluruh penumpang dibawa secara paksa ke wilayah Israel untuk ditahan selama beberapa hari.

 

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menyambut langsung kepulangan para relawan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5). Dalam penyambutannya, ia memastikan pemerintah Indonesia terus memberikan pendampingan terhadap para WNI yang terlibat dalam misi kemanusiaan internasional, terutama yang berkaitan dengan situasi di Gaza.

 

Sugiono juga mengungkapkan bahwa beberapa relawan mengalami trauma fisik setelah mendapat tindakan kekerasan selama proses penahanan.

 

“Selamat datang kembali, selamat berkumpul dengan keluarga. Dan tadi dari laporan, ada beberapa rekan kita yang mengalami trauma fisik yang akan juga ditangani lebih lanjut,” kata Sugiono.

 

Ia menegaskan pemerintah akan terus memastikan perlindungan bagi seluruh warga negara Indonesia di luar negeri, termasuk mereka yang terlibat dalam aksi kemanusiaan di wilayah konflik.

 

Di tengah suasana haru kepulangan para relawan, cerita mengenai perlakuan yang mereka alami selama penahanan mulai terungkap. Wartawan Republika yang juga tergabung dalam relawan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Bambang Noroyono atau Abeng, mengaku bersyukur dapat kembali ke Indonesia dengan selamat dan berkumpul bersama keluarga.

 

Meski demikian, ia menegaskan perjuangan untuk menyuarakan hak-hak rakyat Palestina tidak berhenti sampai di situ.

 

“Syukur alhamdulillah bisa ketemu keluarga, karena ini tetap lanjut perjuangan bersama tentang memperjuangkan hak-hak masyarakat Palestina, hak-hak warga Gaza,” ujar Abeng.

 

Abeng mengaku masih merasakan dampak fisik akibat kekerasan yang dialaminya selama penahanan. Ia menyebut sejumlah relawan lain bahkan mengalami kondisi yang lebih serius.

 

“Kondisi saya sudah enggak terlalu khawatir lagi. Masih ada bekas benturan yang masih kerasa, tapi lambat laun akan menghilang. Luka juga masih ada. Ada beberapa teman yang harus diperhatikan, mengalami retak di bagian dalam tulang,” lanjutnya.

 

Kesaksian serupa disampaikan Thoudy Badai, relawan dari Republika sekaligus anggota GPCI. Ia menilai tindakan yang dilakukan militer Israel merupakan bentuk penculikan karena dilakukan di luar prosedur hukum internasional.

 

“Penculikannya tentu di luar prosedur di perairan internasional, dan kita dibawa masuk ke perairan Israel lalu dibawa ke kapal besar milik Israel selama tiga hari dua malam,” kata Thoudy.

 

Selama masa penahanan, para relawan mengaku mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Pengalaman tersebut, menurut Thoudy, membuat mereka semakin memahami penderitaan yang selama ini dialami warga Palestina di Gaza.

 

“Dan tentunya diperlakukan keji. Itu sangat mungkin dialami masyarakat Palestina dengan kondisi yang jauh lebih keji. Jadi, tetap suarakan Free Palestine,” tegasnya.

 

Insiden ini kembali memunculkan perhatian internasional terhadap keselamatan relawan kemanusiaan yang berupaya menembus blokade menuju Gaza. Sejumlah organisasi kemanusiaan global sebelumnya juga telah menyoroti tingginya risiko yang dihadapi para aktivis dan relawan sipil dalam misi bantuan ke wilayah tersebut, terutama di tengah eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama