Pada Rabu, 1 April 2026, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto memimpin langsung prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan bagi dua Pimpinan Tinggi Madya di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) di Jakarta. Acara ini menandai babak baru bagi institusi yang bertugas menjaga kedaulatan negara di bidang lalu lintas orang serta reformasi pemasyarakatan, khususnya di bawah Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto.
Dua pejabat yang dilantik adalah Hendarsam Marantoko
sebagai Direktur Jenderal Imigrasi yang baru, serta Iwan Santoso sebagai
Staf Ahli Menteri Bidang Pelayanan Publik dan Reformasi Hukum. Pelantikan ini
sekaligus menjadi momentum serah terima jabatan Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur
Jenderal Imigrasi dari Brigjen Pol. Yuldi Yusman kepada Hendarsam Marantoko.
Yuldi Yusman telah menjalankan tugas tersebut selama kurang lebih satu tahun,
di tengah upaya memperkuat pengawasan keimigrasian dan digitalisasi layanan
publik.
Dalam sambutannya, Menteri Agus Andrianto mengucapkan
selamat kepada kedua pejabat baru tersebut. Ia menegaskan bahwa kepercayaan
yang diberikan bukan sekadar jabatan administratif, melainkan panggilan untuk
menjadi teladan dalam menjalankan tugas negara.
"Semoga amanah yang resmi saudara emban mulai
hari ini bukan hanya sekadar menjalankan tugas dan tanggung jawab jabatan,
tetapi juga sebagai panutan dalam profesionalisme dan etika kerja," ujar
Menteri Agus.
Menteri Agus mengingatkan bahwa Kemenimipas merupakan
bagian integral dari Kabinet Merah Putih, sehingga seluruh kewenangan yang
dimiliki berasal dari pendelegasian langsung Presiden Prabowo Subianto. Hal ini
menuntut komitmen tinggi dari seluruh jajaran untuk berkontribusi pada
pencapaian tujuan nasional, sebagaimana diamanatkan dalam alinea keempat
Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap bangsa dan memajukan
kesejahteraan umum.
"Perlu kita sadari bahwa segala kewenangan
yang kita miliki adalah merupakan pendelegasian dari kewenangan Bapak Presiden
kepada kita sekalian," tegasnya.
Lebih lanjut, Menteri Agus menekankan pentingnya
akuntabilitas penggunaan anggaran negara. Setiap rupiah yang dikelola
Kemenimipas berasal dari uang rakyat, sehingga harus dimanfaatkan secara tepat
sasaran untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar
rutinitas birokrasi.
"Anggaran yang membiayai seluruh kegiatan kita
adalah uang rakyat. Jadi penggunaannya harus berorientasi untuk memberikan
kontribusi bagi upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat," ujarnya.
Dengan nada filosofis yang mendalam, Menteri Agus
mengajak seluruh hadirin untuk merenungkan makna waktu dan kehidupan dalam
menjalankan tugas. Ia mengingatkan bahwa setiap hari adalah kesempatan baru,
dan yang tersisa dari hidup kita seharusnya memberikan manfaat bagi orang lain.
"Setiap saat adalah baru. Dan yang kita jalani
adalah sisa. Mudah-mudahan sisa perjalanan yang ada adalah manfaat kepada orang
lain. Mudah-mudahan di sisa waktu yang ada bersama kita, bukan hanya kelihatan
hidup, tetapi benar-benar hidup," tuturnya.
Dalam kerangka itu, Menteri Agus mendorong para pejabat
untuk melepaskan beban masa lalu dan fokus pada kontribusi nyata ke depan.
Pencapaian puncak karier, menurutnya, baru bermakna jika digunakan untuk
menciptakan perubahan positif dan meninggalkan warisan kebaikan bagi institusi,
masyarakat, serta generasi mendatang.
"Saudara sekalian telah mencapai puncak
jabatan, namun arah gerak saudara ke depan akan menentukan seberapa besar makna
kehadiran saudara bagi institusi, masyarakat, bangsa, dan negara,"
katanya.
"Jadikan jabatan ini sebagai alat untuk
memperluas manfaat, bukan sekadar gelar atau untuk kebanggaan pribadi semata.
Manfaatkan kesempatan yang baik ini untuk menciptakan perubahan yang bermakna,
memperkaya pengalaman, dan meninggalkan warisan kebaikan bagi generasi
pengganti dan penerus," pungkasnya.
Khusus kepada Hendarsam Marantoko sebagai Direktur
Jenderal Imigrasi yang baru, Menteri Agus berpesan agar 15 Program Aksi
Strategis Kemenimipas tahun 2026 menjadi pedoman utama. Program-program tersebut
mencakup penguatan layanan keimigrasian berbasis digital, peningkatan
pemeriksaan di Tempat Pemeriksaan Imigrasi, penyederhanaan proses, serta
peningkatan kompetensi sumber daya manusia, semua ditujukan untuk membuat
imigrasi lebih modern, aman, dan berorientasi pada pelayanan publik di tengah
dinamika global.
"Semoga di bawah kepemimpinan Bapak, Imigrasi
memberikan pelayanan semakin baik kepada masyarakat, menjadi instansi yang
kuat, dan mudah-mudahan bisa menjadi contoh bagi yang lain," pesan
Menteri Agus.
Sementara itu, kepada Iwan Santoso, Menteri Agus
menegaskan bahwa jabatan Staf Ahli Menteri bukanlah posisi seremonial,
melainkan peran strategis yang menjadi “radar” dan “kompas” dalam merumuskan
kebijakan pelayanan publik serta reformasi hukum.
"Jabatan staf ahli adalah jabatan strategis.
Saudara diharapkan menjadi radar sekaligus kompas bagi saya dalam merumuskan
kebijakan," ujarnya.
Menutup arahannya, Menteri Agus menekankan perlunya
pendekatan baru di tengah perubahan global yang cepat. Soliditas internal,
kolaborasi lintas fungsi, serta komunikasi yang baik baik secara internal
maupun eksternal menjadi kunci keberhasilan Kemenimipas ke depan.
"Saya berharap kepada seluruh insan
Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dapat terus menjaga soliditas, menjaga
kekompakan, kerja sama kolaborasi dan komunikasi, baik internal maupun
eksternal," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agus juga
menyampaikan apresiasi mendalam kepada Brigjen Pol. Yuldi Yusman beserta
keluarga atas dedikasi selama menjabat sebagai Plt. Direktur Jenderal Imigrasi.
Berbagai capaian positif selama masa kepemimpinannya diharapkan dapat terus
dipertahankan dan dikembangkan oleh kepemimpinan baru.
"Atas nama Kementerian Imigrasi dan
Pemasyarakatan, saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Pak Yuldi
beserta ibu yang telah mengabdikan pengabdiannya kepada institusi Imigrasi
selama ini. Begitu banyak capaian positif dan prestasi selama era kepemimpinan
beliau," ujar Menteri Agus.
Menteri Agus menutup sambutannya dengan mengajak seluruh
jajaran memandang institusi sebagai “rumah bersama” yang harus dijaga
keutuhannya.
"Pohon besar Imigrasi dan Pemasyarakatan
merupakan milik kita bersama yang harus kita jaga keutuhan dan kekokohannya
sebagai tempat kita berteduh dan bernaung bagi rekan-rekan sampai nanti saat
purnatugas," tutupnya.
Acara ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi
Kemenimipas untuk terus bertransformasi, memberikan pelayanan prima, serta
mendukung visi nasional Indonesia yang lebih maju dan berdaulat.

Posting Komentar