Tragedi Longsor Gunung Sampah TPST Bantargebang: Korban Bertambah Jadi 4 Orang, Tim SAR Temukan Sopir Truk Tertimbun


Tragedi longsor di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) DKI Jakarta Zona 4C, Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, semakin menelan korban. Hingga malam ini, Minggu 8 Maret 2026 pukul sekitar 21.30 WIB, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi empat orang setelah tim evakuasi berhasil menemukan satu korban tambahan yang tertimbun di bawah longsoran material sampah basah.

 

Korban terbaru yang berhasil dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia adalah Irwan Supriyadi alias Uya, seorang sopir truk sampah DKI Jakarta wilayah Koja. Ia diduga sedang mengendarai truk pengangkut sampah ketika longsor terjadi secara mendadak sekitar pukul 14.00-15.30 WIB. Penemuan jenazah Irwan ini menegaskan dugaan awal bahwa masih ada korban lain di lokasi, terutama di antara tumpukan truk yang ikut terseret dan tertimbun material sampah setinggi puluhan meter.

 

Sebelumnya, tiga korban jiwa telah berhasil dievakuasi lebih awal: 

-          Sumini (60 tahun), pedagang kopi yang memiliki warung kecil di dekat area kejadian. Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras yang sudah bertahun-tahun mencari nafkah di sekitar TPST untuk menghidupi keluarganya. 

-          Endah Widayati (26 tahun), seorang pemulung muda yang sering beraktivitas di lokasi tersebut mencari barang bekas bernilai jual. 

-          Dedi Sutrisno (22 tahun), sopir truk sampah asal Asrama DKI, RT 07 RW 03, Kelurahan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara. 

 

Keempat korban ini semuanya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia akibat tertimbun longsoran sampah yang runtuh dengan volume besar. Tim gabungan dari Basarnas Jakarta, BPBD Kota Bekasi, Polsek Bantargebang, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, serta relawan terus bekerja keras menggunakan ekskavator dan alat berat lainnya untuk menggali material sampah yang sangat berat dan tidak stabil. Proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati karena risiko longsor susulan masih tinggi, terutama dengan cuaca yang masih berpotensi hujan di wilayah Bekasi dan sekitarnya.

 

Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, dalam keterangannya menyatakan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung intensif. "Kami telah menemukan empat korban jiwa sejauh ini, termasuk sopir truk tambahan. Namun, tim masih menduga ada kemungkinan korban lain yang belum terdeteksi, mengingat beberapa truk sampah masih tertimbun dan area longsorannya cukup luas," ujarnya. Tim SAR juga standby dengan tim medis untuk memberikan pertolongan pertama jika ditemukan korban dalam kondisi hidup, meski hingga kini harapan itu semakin tipis.

 

Kronologi kejadian semakin jelas dari keterangan saksi mata. Fauzan Anarki (28 tahun), yang saat itu baru saja keluar dari warung kopi Sumini, menceritakan bagaimana longsor terjadi begitu cepat. "Saya mendengar teriakan 'longsor! longsor!' lalu menoleh ke belakang. Gunung sampah itu langsung runtuh seperti gelombang besar, menutup jalan dan menimpa warung serta truk-truk di sekitarnya. Saya langsung panik dan segera menyebarkan info lewat grup WA keamanan TPST," katanya. Saksi lain seperti Wardi Suwanda (49 tahun), security TPST, Golden Pane (41 tahun), dan Mansur (60 tahun), buruh lokal, juga mengonfirmasi bahwa hujan deras beberapa hari terakhir membuat tumpukan sampah menjadi sangat labil dan berat.

 

Penyebab utama longsor ini diduga karena curah hujan tinggi yang meresap ke dalam lapisan sampah, menciptakan tekanan hidrostatik yang memicu runtuhnya struktur gunungan. Ketinggian tumpukan sampah di TPST Bantargebang kini telah mencapai level kritis, bahkan mendekati 50-60 meter di beberapa zona, setara dengan gedung bertingkat tinggi. TPST ini menerima rata-rata 7.000-9.000 ton sampah per hari dari Jakarta, tapi pengelolaan dan penumpukan tidak lagi seimbang dengan kapasitas aman. Kejadian serupa pernah terjadi berulang kali, termasuk longsor akhir 2025 yang menimbun truk tanpa korban jiwa, tapi kali ini dampaknya jauh lebih fatal.

 

Kerugian materiil juga semakin terlihat. Beberapa unit truk sampah DKI tertimbun, termasuk yang dikemudikan korban. Warung kopi Sumini hancur lebur, begitu pula peralatan pedagang kecil dan barang milik pemulung. Banyak pekerja informal di lokasi ini, pemulung, pedagang, dan sopir, kini trauma dan khawatir untuk kembali beraktivitas. Bagi mereka, TPST bukan hanya tempat kerja, tapi sumber penghidupan utama di tengah keterbatasan ekonomi.

 

Pihak kepolisian Polsek Bantargebang dan Polres Metro Bekasi telah menerima laporan resmi, melakukan olah TKP, serta mendata korban dan saksi. Fokus saat ini tetap pada evakuasi dan pencarian, tapi investigasi lebih lanjut kemungkinan akan dilakukan terkait standar keselamatan, pengawasan tumpukan sampah, dan tanggung jawab pengelola TPST. Banyak pihak menilai ini bukan sekadar musibah alam, melainkan akumulasi kelalaian pengelolaan sampah jangka panjang di ibu kota.

 

Hingga malam ini, pencarian masih berlanjut di bawah penerangan lampu sorot. Tim gabungan berharap tidak ada korban tambahan, tapi kewaspadaan tetap tinggi mengingat kondisi cuaca dan stabilitas material sampah yang rapuh. Keluarga korban, termasuk istri dan anak-anak dari Irwan Supriyadi, Sumini, Endah Widayati, serta Dedi Sutrisno, sedang mendapat pendampingan dari petugas sosial dan relawan.

 

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi Pemprov DKI Jakarta dan Pemkot Bekasi untuk segera mereformasi sistem pengelolaan sampah. Pengurangan sampah dari sumber (reduce, reuse, recycle), penerapan teknologi modern seperti waste-to-energy, serta relokasi atau penutupan bertahap TPST yang sudah overload harus menjadi prioritas. Selama masalah sampah belum diselesaikan dari akarnya, risiko longsor dan korban jiwa akan terus mengintai pekerja informal dan warga sekitar.

 

Kami akan terus memantau perkembangan terkini dari lokasi. Semoga proses evakuasi segera selesai, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan menghadapi kehilangan ini. Tragedi seperti ini seharusnya tidak terulang lagi, nyawa manusia jauh lebih berharga daripada tumpukan sampah yang tak terkendali.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama