Kunjungan kerja Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Uni Emirat Arab (UEA) pada akhir Februari 2026 menjadi salah satu momen penting dalam diplomasi Indonesia di kawasan Timur Tengah. Setelah menyelesaikan agenda di Yordania, Presiden Prabowo tiba di Abu Dhabi pada Rabu, 25 Februari 2026, waktu setempat. Kedatangan ini langsung disambut hangat, termasuk oleh para pemimpin emirat dan diaspora Indonesia yang berada di sana.
Puncak dari kunjungan ini terjadi pada Kamis, 26 Februari
2026, ketika Presiden Prabowo bertemu langsung dengan Presiden UEA, Sheikh
Mohammed bin Zayed Al Nahyan, yang akrab disapa MBZ. Pertemuan berlangsung di
Qasr Al Bahr, istana kepresidenan yang megah di Abu Dhabi. Suasana pertemuan
begitu khidmat namun santai, dengan kedua pemimpin saling menyapa hangat begitu
tiba.
Presiden MBZ menyambut dengan ramah, mengucapkan, “Terima
kasih sudah datang.” Prabowo pun membalas dengan penuh penghargaan, “Terima
kasih telah menerima saya,” sambil memeluk MBZ sebagai tanda keakraban
dan rasa terima kasih atas sambutan luar biasa yang diberikan kepada dirinya
serta seluruh delegasi Indonesia.
Kedua pemimpin kemudian melanjutkan diskusi bilateral di
taman terbuka istana. Latar belakang pepohonan palem yang hijau rindang, dipadu
dengan cahaya senja khas Abu Dhabi, menciptakan nuansa yang semakin mempererat
rasa persahabatan. Mereka berbincang sambil menanti waktu berbuka puasa,
menjadikan momen ini tidak hanya diplomatik, tapi juga penuh nilai spiritual di
bulan Ramadan 1447 H.
Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Tahun 2026
menandai tonggak bersejarah: 50 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia
dan UEA yang telah terjalin sejak 1976. Lima dekade ini telah membangun
fondasi kokoh bagi kerja sama yang semakin mendalam. Kini, kedua negara siap
memasuki fase baru yang lebih luas, substantif, dan langsung memberikan dampak
positif bagi rakyat masing-masing.
Dalam pembahasan, kedua pemimpin fokus pada penguatan
kemitraan strategis di berbagai sektor prioritas. Bidang energi menjadi salah
satu sorotan utama, mengingat UEA sebagai salah satu produsen minyak dan gas
terbesar dunia, sementara Indonesia terus mendorong transisi energi
berkelanjutan. Selain itu, mereka membahas peningkatan investasi UEA ke
Indonesia, yang diharapkan semakin masif di tahun-tahun mendatang. Kerja sama
ekonomi masa depan juga menjadi agenda, termasuk pengembangan sektor-sektor
inovatif seperti teknologi, infrastruktur, perdagangan, dan pariwisata.
Menurut informasi dari Sekretaris Kabinet Teddy Indra
Wijaya, pertemuan empat mata antara Prabowo dan MBZ berlangsung lebih dari satu
jam dalam suasana terbuka dan konstruktif. Hal ini menunjukkan komitmen tinggi
dari kedua belah pihak untuk mewujudkan visi bersama. UEA bahkan menyatakan
keinginan kuat untuk meningkatkan investasinya di Indonesia, yang tentu saja
akan membawa manfaat ekonomi jangka panjang, seperti penciptaan lapangan kerja,
transfer teknologi, dan pertumbuhan sektor industri.
Delegasi Indonesia yang mendampingi Presiden Prabowo
terdiri dari tokoh-tokoh kunci. Di antaranya Menteri Luar Negeri Sugiono,
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Sekretaris Kabinet
Teddy Indra Wijaya, Duta Besar RI untuk UEA Judha Nugraha, serta Direktur Utama
PT Pindad (Persero) Sigit P. Santosa. Kehadiran mereka mencerminkan fokus
Indonesia pada sektor energi, pertahanan, dan diplomasi ekonomi.
Sementara itu, dari pihak UEA, Presiden MBZ didampingi
oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Wakil Ketua Mahkamah Kepresidenan Hamdan
bin Mohamed Al Nahyan, Penasihat Mahkamah Kepresidenan Mohamed bin Hamad Al
Nahyan, Penasihat Urusan Strategis Ahmed Al Mazrouei, Menteri Energi dan
Infrastruktur Suhail Al Mazrouei, serta Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla
Salem Obaid Salem Al Dhaheri.
Momen paling berkesan dari kunjungan ini adalah saat
berbuka puasa bersama. Di kompleks Istana Qasr Al Bahr, Presiden Prabowo dan
Presiden MBZ duduk berdua di bawah naungan pohon palem, ditemani angin
sepoi-sepoi sore Abu Dhabi. Suasana akrab terasa begitu nyata, dengan keduanya berbincang
santai sambil menunggu azan magrib.
Setelah itu, mereka melanjutkan makan malam di dalam
ruangan. Meja makan dipenuhi hidangan khas Timur Tengah yang menggugah selera,
seperti kurma segar, sup, roti arab, dan berbagai lauk-pauk lezat lainnya.
Momen ini menjadi simbol kuat dari hubungan bilateral yang tidak hanya bersifat
politik-ekonomi, tapi juga penuh nilai kemanusiaan dan kebersamaan di bulan
suci.
Presiden Prabowo sendiri mengabadikan momen tersebut
melalui akun Instagram resminya @prabowo. Ia menulis, “Alhamdulillah, di
bulan suci Ramadan yang penuh berkah, saya berkesempatan berbuka puasa bersama
Presiden Uni Emirat Arab, Yang Mulia Mohammed bin Zayed Al Nahyan. Silaturahmi
ini menjadi momentum untuk mempererat persahabatan sekaligus memperkuat kerja
sama strategis Indonesia dan UEA demi kesejahteraan rakyat kedua negara.”
Ungkapan tersebut mencerminkan betapa berharganya
kesempatan ini bagi Prabowo. Di tengah hiruk-pikuk agenda kenegaraan, momen
berbuka puasa bersama mitra strategis seperti ini memperkuat ikatan emosional
antar pemimpin, yang pada akhirnya mendukung tercapainya
kesepakatan-kesepakatan konkret.
Kunjungan ini juga mendapat sambutan hangat dari diaspora
Indonesia di UEA. Saat tiba di hotel tempat menginap, Presiden Prabowo disambut
oleh para mahasiswa dan warga Indonesia. Salah satunya, Naufal Ahmad Sofyan,
mahasiswa di Muhammad bin Zayed University for Humanities sekaligus Wakil Ketua
Umum Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) UEA, menyatakan rasa terkesannya bisa
bertemu dan berjabat tangan langsung dengan Presiden. Ia menyebutkan bahwa
hubungan baik antara Indonesia dan UEA turut membuka peluang bagi generasi muda
Indonesia di sana.
Secara keseluruhan, kunjungan Presiden Prabowo ke UEA ini
berhasil memperkuat fondasi kemitraan yang telah terbangun selama setengah
abad. Di tengah tantangan global seperti fluktuasi harga energi dan kebutuhan
transisi hijau, kerja sama Indonesia-UEA diharapkan semakin kokoh. Investasi
yang lebih besar dari UEA ke Indonesia, kolaborasi di sektor energi terbarukan,
serta peningkatan perdagangan bilateral akan menjadi kunci untuk mencapai
kesejahteraan bersama.
Momen Ramadan yang khidmat ini bukan hanya tentang
berbuka puasa, tapi juga tentang membangun masa depan yang lebih cerah bagi
kedua bangsa. Dengan komitmen yang ditunjukkan oleh Presiden Prabowo dan
Presiden MBZ, hubungan Indonesia-UEA siap memasuki babak baru yang lebih
gemilang, saling menguntungkan, dan berkelanjutan.


Posting Komentar