Tren perawatan kesehatan mandiri atau self-care di Indonesia kini bukan lagi sekadar pilihan personal, melainkan telah bergeser menjadi tanggung jawab bersama antara masyarakat, pelaku industri farmasi, fasilitas medis, dan badan regulator. Pergeseran paradigma ini menjadi sorotan utama dalam gelaran APSMI/Self-Carer/GPFI Bali Summit 2026 yang berlangsung pada 29–31 Oktober 2026 di Bali.
Konferensi tingkat regional yang diusung oleh
Asia-Pacific Self-Medication Industry (APSMI) bekerja sama dengan Gabungan
Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) ini mengangkat tema “Self-Care in
Healthcare: Scaling Partnership for Better Health Outcomes”. Forum bergengsi
ini mempertemukan para regulator, pembuat kebijakan, perwakilan Kementerian
Kesehatan se-Asia Pasifik, hingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk
merumuskan strategi penguatan pelayanan kesehatan modern.
Urgensi penguatan self-care di tanah air tecermin nyata
dari data lapangan. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS
Maret 2025, sebanyak 78,43% masyarakat Indonesia yang mengalami keluhan kesehatan
memilih pengobatan mandiri sebagai langkah utama.
Di skala global, riset Global Self-Care Federation (GSCF)
mengungkapkan bahwa praktik pengobatan mandiri yang tepat dan terarah
berpotensi menghemat anggaran kesehatan dunia hingga USD 144 miliar per tahun,
sekaligus memangkas miliaran jam waktu pelayanan medis di fasilitas kesehatan
formal.
Dalam keynote speech secara daring bertajuk “Strengthening
Self-Care through Regulatory Innovation for Better Health Outcomes” pada
pembukaan KTT (30/10/2026), Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan komitmen
lembaga yang dipimpinnya dalam mendukung transformasi ini melalui regulasi
berbasis bukti.
"Peran regulator kini bertransformasi dari
sekadar gatekeeper menjadi bridge (jembatan) yang menghubungkan inovasi
industri dengan perlindungan kesehatan publik. Pendekatan berbasis risiko dan
kolaborasi Academia-Business-Government (ABG) menjadi kunci untuk mempercepat
akses produk obat yang aman, efisien, dan bermutu tanpa mengorbankan standar
keselamatan," ujar Kepala BPOM.
Pada sesi media briefing, Taruna Ikrar kembali menekankan garis batas penting: self-care
dirancang untuk melengkapi, bukan menggantikan peran fasilitas atau tenaga
medis formal. Konsultasi dengan dokter atau apoteker tetap menjadi keharusan
jika gejala penyakit tak kunjung membaik.
Menanggapi tantangan era digital mulai dari maraknya
transaksi obat via e-commerce hingga derasnya adopsi kecerdasan buatan (artificial
intelligence) yang berisiko memicu disinformasi medis BPOM memperketat benteng
pengawasannya.
“Untuk menangkal risiko salah guna maupun
disinformasi obat, BPOM terus memperkuat transparansi informasi melalui
digitalisasi, seperti penggunaan 2D Barcode, e-labelling, aplikasi BPOM Mobile,
pengawasan siber di e-commerce, serta intensifikasi edukasi masyarakat lewat
kampanye Cek KLIK (Cek Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa),”
tambah Taruna.
Pandangan tersebut sejalan dengan visi World Health Organization (WHO).
Perwakilan WHO, Manjulaa Narasimhan, menegaskan bahwa praktik self-care yang
aman merupakan pilar kunci dalam mencapai cakupan kesehatan semesta (universal
health coverage). Menurutnya, fondasi ini memerlukan sistem kesehatan yang
berpusat pada kebutuhan masyarakat, akses terhadap produk berkualitas, serta
ekosistem layanan digital yang inklusif.
Dari sudut pandang industri dan federasi internasional, Director
General GCSF Greg Perry menggarisbawahi pentingnya integrasi data.
“Namun, yang juga tak kalah penting adalah data
laporan yang memadai untuk menjadi bukti bagi pemerintah, organisasi kesehatan
internasional, serta pemangku kepentingan lainnya untuk dapat mengintegrasikan
self-care ke dalam sistem kesehatan,” tutur Greg.
Menutup rangkaian agenda, Chairperson APSMI Rachmadi
Joesoef memaparkan bahwa sejak 2024, telah ada lebih dari 150 inisiatif di
kawasan Asia Pasifik yang mencakup edukasi tenaga ritel/apoteker, peningkatan
literasi kesehatan digital, hingga dorongan regulasi adaptif. Melalui Bali
Summit 2026 ini, kolaborasi lintas negara diharapkan kian solid sehingga
manfaat self-care yang aman dan terjangkau dapat dirasakan langsung oleh masyarakat
luas.

Posting Komentar