Zohran Mamdani, Wali Kota New York yang pertama kali berlatar belakang Muslim dan keturunan Asia Selatan, kembali menjadi sorotan dunia. Melalui video pernyataan terbaru yang beredar luas, ia dengan tegas menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai “penjahat perang” dan “arsitek genosida mengerikan terhadap rakyat Palestina.” Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang semakin memanas menjelang kunjungan Netanyahu ke New York untuk Sidang Umum PBB pada September mendatang.
Dalam video berdurasi sekitar dua menit yang diunggah
melalui akun X-nya, Mamdani menyampaikan kritik tajam yang sudah menjadi ciri
khasnya sejak kampanye. “Benjamin Netanyahu adalah seorang penjahat
perang,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa Netanyahu bertanggung jawab atas
“pembunuhan lebih dari 73.000 orang” di Gaza, termasuk dampak
mengerikan pada anak-anak: ribuan anak cacat dan harus menjalani amputasi tanpa
anestesi yang memadai. Menurutnya, serangan juga menargetkan rumah sakit, bayi
baru lahir, pekerja kemanusiaan, hingga jurnalis.
“Hingga delapan bulan setelah gencatan senjata,
daftar-daftar korban itu masih terus bertambah,” katanya. Mamdani
menyoroti peran Amerika Serikat sebagai penyandang dana utama, di mana warga AS,
termasuk warga New York, secara tidak langsung membiayai bom-bom yang digunakan
dalam konflik tersebut.
Dukungan terhadap ICC
dan Batasan Kewenangan Kota
Mamdani menyatakan dukungannya penuh terhadap surat
perintah penangkapan yang dikeluarkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC)
terhadap Netanyahu pada November 2024. ICC menuduh Netanyahu dan pejabat Israel
lainnya melakukan kejahatan perang serta kejahatan terhadap kemanusiaan terkait
operasi militer di Gaza pasca-serangan Hamas 7 Oktober 2023.
Namun, Mamdani jujur soal keterbatasan kekuasaannya. “Pemerintahan
saya telah meninjau setiap jalur yang tersedia berdasarkan hukum yang berlaku
untuk menentukan apakah Kota New York dapat mengeksekusi surat perintah
penangkapan ICC jika Benjamin Netanyahu datang ke sini,” jelasnya.
“Jelas bahwa kami tidak memiliki kewenangan hukum
independen untuk menegakkan surat perintah tersebut.”
Ia menyerukan agar pemerintah federal AS bergabung dengan
ICC dan melaksanakan perintah penangkapan itu. “Benjamin Netanyahu tidak
diterima di New York City, begitu pula penjahat perang lainnya,”
tambahnya tegas.
Respons dari Trump dan
Israel
Pernyataan Mamdani langsung menuai reaksi keras. Presiden
Donald Trump menegaskan melalui Truth Social bahwa Netanyahu “tidak akan
ditangkap dalam bentuk apa pun” selama berada di wilayah Amerika
Serikat. Trump menekankan dukungannya terhadap Israel sebagai sekutu melawan
Iran.
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyindir
Mamdani melalui X, menyebut bahwa tugas wali kota adalah melayani warga New
York, bukan menyebarkan “propaganda Hamas.” Sementara itu, kantor
Netanyahu menyebut ICC sebagai “pengadilan kanguru” yang tidak memiliki
yurisdiksi atas Israel.
Latar Belakang Mamdani
dan Konteks Konflik Terkini
Zohran Mamdani, lahir di Kampala, Uganda, dari orang tua
berlatar India (ayah akademisi Mahmood Mamdani dan ibu sutradara Mira Nair),
telah lama vokal mengkritik kebijakan Israel. Sebagai demokrat sosialis, ia
sering menyebut operasi militer Israel di Gaza sebagai “genosida” dan
menjadikan isu Palestina sebagai bagian penting kampanyenya. Ia terpilih
sebagai wali kota termuda New York dalam lebih dari satu abad pada akhir 2025.
Konflik Gaza sendiri terus meninggalkan dampak tragis.
Laporan PBB terbaru menyebutkan puluhan ribu anak Palestina tewas atau terluka,
dengan banyak kasus amputasi tanpa obat bius dan serangan yang diduga
menargetkan anak-anak bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025. Israel
membantah tuduhan tersebut dan menekankan upaya meminimalkan korban sipil serta
haknya membela diri dari Hamas.
Pernyataan Mamdani ini mencerminkan perpecahan mendalam
dalam politik Amerika terkait Israel-Palestina. Di satu sisi, ada tuntutan
akuntabilitas internasional; di sisi lain, dukungan kuat AS terhadap Israel
tetap menjadi pilar kebijakan luar negeri. Apakah kota New York bisa berperan
lebih aktif, atau ini hanya akan menjadi simbol politik, masih menjadi
perdebatan panas menjelang September. Yang jelas, suara Mamdani semakin
menggema di panggung global.

إرسال تعليق