Kontak Tembak di Nabire, Aparat Kuasai Markas DPO KKB dan Amankan 561 Butir Amunisi



Konflik bersenjata di wilayah Papua terus menjadi sorotan, dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang sering melakukan aksi kekerasan yang mengganggu stabilitas masyarakat. Operasi Damai Cartenz-2026, yang dipimpin oleh aparat gabungan TNI dan Polri, menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menegakkan hukum dan melindungi warga. Operasi ini tidak hanya menargetkan pelaku langsung, tetapi juga membongkar jaringan yang mendukung aksi-aksi tersebut. Baru-baru ini, dua peristiwa signifikan menunjukkan kemajuan dalam penindakan: penguasaan markas KKB di Nabire dan pengembangan kasus di Yahukimo. Kedua insiden ini menyoroti komitmen negara dalam menghadapi ancaman keamanan, sambil memberikan pelajaran tentang kompleksitas isu di Papua yang melibatkan faktor sosial, ekonomi, dan politik.

 

Di Nabire, Papua Tengah, aparat keamanan berhasil melakukan operasi penegakan hukum yang tegas terhadap seorang daftar pencarian orang (DPO) yang mengklaim dirinya sebagai Panglima Kodap III, yakni Dulla Aibon Kogoya. Peristiwa ini terjadi pada Minggu malam, 1 Maret 2026, sekitar pukul 22.40 waktu Indonesia Timur. Tim gabungan yang terdiri dari Satgas Habema, Satgas Rajawali, dan Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 mendekati salah satu markas persembunyian kelompok tersebut berdasarkan informasi intelijen yang akurat. Saat mendekat, mereka disambut dengan tembakan dari kelompok bersenjata, yang memicu kontak senjata sengit. Namun, setelah pertempuran singkat, anggota KKB memilih untuk melarikan diri, meninggalkan basis mereka yang selama ini menjadi pusat operasi.

 

Penguasaan markas ini bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan langkah strategis untuk memutus rantai suplai dan komunikasi kelompok tersebut. Dalam penggeledahan menyeluruh yang dilakukan pasca-insiden, aparat menemukan berbagai barang bukti yang mengungkap skala operasi KKB. Di antaranya, ada 561 butir amunisi dari berbagai kaliber, termasuk untuk senjata laras panjang dan pendek. Selain itu, diamankan 10 magasin, termasuk yang kompatibel dengan senjata SS1 dan AK-101, yang sering digunakan dalam aksi kekerasan. Barang-barang ini menunjukkan persiapan matang kelompok untuk melakukan serangan berkelanjutan.


 

Lebih lanjut, tim mengamankan 12 unit ponsel genggam dan lima unit handy talky (HT), yang kemungkinan besar digunakan untuk koordinasi antar anggota. Uang tunai sebesar Rp79.900.000 juga ditemukan, yang bisa jadi berasal dari hasil pemerasan atau dukungan eksternal. Yang paling mengkhawatirkan adalah dua ponsel yang diduga milik korban aksi sebelumnya. Satu di antaranya kemungkinan milik anggota Brimob Batalion C yang tewas dalam penyerangan tahun lalu, sementara yang lain mungkin milik karyawan sipil atau petugas keamanan dalam insiden pembakaran pos pengamanan PT Kristalin di Nabire beberapa pekan sebelumnya. Temuan ini tidak hanya memperkuat bukti hukum, tapi juga mengingatkan pada korban sipil dan aparat yang telah gugur akibat kekerasan ini.

 

Latar belakang konflik di Nabire sendiri mencerminkan isu lebih luas di Papua, di mana sumber daya alam seperti tambang emas sering menjadi pemicu perselisihan. PT Kristalin, sebagai perusahaan yang beroperasi di sektor pertambangan, kerap menjadi target karena dianggap mewakili kepentingan luar. Aksi pembakaran pos pengamanan tersebut, misalnya, tidak hanya merugikan perusahaan, tapi juga mengganggu akses masyarakat terhadap layanan dasar dan ekonomi lokal. Operasi seperti ini membantu memulihkan kepercayaan warga bahwa negara hadir untuk melindungi mereka dari ancaman semacam itu.

 

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, menekankan bahwa tindakan ini adalah bentuk konkret dari kehadiran negara di tengah masyarakat yang terancam kekerasan. “Ini merupakan komitmen negara untuk hadir di tengah masyarakat ketika terjadi aksi-aksi kekerasan. TNI-Polri tidak akan tinggal diam. Kami akan terus melakukan pengejaran dan penegakan hukum terhadap para pelaku kelompok kriminal bersenjata hingga mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.

 

Sementara itu, Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Brigjen Pol. Faizal Ramadhani, mengajak masyarakat untuk tetap waspada terhadap informasi palsu yang bisa memperburuk situasi. “Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan jangan terpengaruh informasi yang belum resmi. Aparat keamanan akan bertindak tegas terhadap siapapun yang berupaya membuat kekacauan dan mengganggu stabilitas keamanan. Penegakan hukum ini semata-mata untuk melindungi masyarakat dan menjaga ketertiban,” ujarnya.


 

Saat ini, penyisiran di sekitar lokasi masih berlangsung untuk memastikan area benar-benar aman dan memburu pelaku yang kabur. Operasi ini dilakukan dengan pendekatan profesional, menghindari korban sipil, dan fokus pada pemulihan ketertiban. Di Papua, di mana tantangan geografis seperti hutan lebat dan pegunungan membuat penindakan sulit, keberhasilan seperti ini memberikan harapan bagi masyarakat yang mendambakan kedamaian. Selain itu, upaya ini juga mendukung pembangunan infrastruktur dan ekonomi, karena keamanan adalah fondasi utama untuk investasi dan kesejahteraan warga.

 

Bergeser ke wilayah Yahukimo di Papua Pegunungan, Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 terus memperluas penyidikan terhadap serangkaian aksi kekerasan bersenjata yang telah berlangsung sejak 2023. Pengembangan kasus ini berawal dari pengamanan beberapa pihak pada pekan sebelumnya, yang membuka tabir keterlibatan berbagai nama dalam penembakan, pembunuhan, dan aksi destruktif lainnya hingga awal 2026. Yahukimo, dengan medan pegunungan yang sulit dan komunitas yang bergantung pada pertambangan tradisional seperti pendulangan emas, sering menjadi arena konflik antara kelompok bersenjata dan aparat, yang berdampak pada kehidupan sehari-hari warga sipil.

 

Dari hasil penyidikan intensif, aparat mengidentifikasi Meno Kogoya sebagai pelaku baru yang terlibat dalam beberapa insiden serius. Nama ini sebelumnya belum terdeteksi, tapi bukti yang dikumpul menunjukkan perannya dalam aksi kekerasan. Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, menjelaskan, “Dari hasil pengembangan penyidikan, Meno Kogoya terlibat dalam pembunuhan dua pendulang emas pada 20 September 2025, penembakan mobil Hilux Armor pada 22 September 2025, penembakan Avanza putih pada 29 Desember 2025, serta penembakan pesawat Hercules pada 14 Januari 2026.”

 

Selain Meno Kogoya, tiga nama lain yang sudah teridentifikasi sebelumnya kini terbukti memiliki keterlibatan yang lebih luas berdasarkan pemeriksaan mendalam dan bukti tambahan. Pertama, Kotor Payage alias Kotoran Giban, yang kasusnya telah dialihkan ke Polda Papua untuk penanganan lanjutan. Ia diduga terlibat dalam penembakan mobil Strada putih pada Maret 2024, penembakan terhadap Serka Segar Mulyana pada 16 Juni 2025, penembakan Avanza putih pada 29 Desember 2025, penembakan pesawat Hercules di Bandara Nop Goliat Dekai pada 14 Januari 2026, serta penembakan truk box di Kilometer 7 Logpon pada 30 Januari 2026. Aksi-aksi ini tidak hanya menargetkan aparat, tapi juga kendaraan sipil, yang sering kali mengakibatkan korban jiwa atau luka parah.

 

Kemudian, Enage Heluka diduga berperan dalam pengambilan video pernyataan pasca-penembakan pada 12 Februari 2026, yang kemungkinan digunakan untuk propaganda. Sementara Homi Heluka memiliki daftar keterlibatan yang lebih panjang, termasuk pembakaran mobil polisi di Jalan Statistik pada 2023, pembunuhan di Kali Silet pada 11 Februari 2024, dan penembakan sopir truk di Jalan Logpon pada 12 Februari 2026. Korban dalam insiden terakhir ini beruntung selamat dan telah menerima perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Papua. Pengungkapan ini menunjukkan bagaimana jaringan KKB saling terkait, dengan anggota yang berperan dalam berbagai tahap aksi, dari perencanaan hingga eksekusi dan penyebaran informasi.

 

Yusuf Sutejo menambahkan bahwa pengungkapan ini adalah hasil dari proses penyelidikan yang berkelanjutan oleh tim gabungan, yang melibatkan analisis bukti forensik, saksi, dan intelijen. Pendekatan ini memastikan bahwa penegakan hukum didasarkan pada fakta, bukan spekulasi, yang penting untuk menjaga keadilan di tengah situasi sensitif seperti di Papua.

 

Menanggapi hal ini, Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Brigjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, menegaskan komitmen aparat untuk menyelesaikan setiap kasus. “Kami berkomitmen untuk menuntaskan setiap kasus kekerasan yang meresahkan masyarakat. Penegakan hukum dilakukan secara profesional, proporsional, dan berbasis bukti, guna memberikan kepastian hukum serta menjamin rasa aman bagi warga,” tegasnya.

 

Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga, juga menyoroti aspek lain dari kelompok ini, yakni yang dikategorikan sebagai kelompok kriminal politik. “Kelompok ini tidak hanya melakukan kekerasan, tetapi juga menyebarkan narasi dan dokumentasi aksi mereka melalui media sosial. Saat ini kami melakukan profiling secara mendalam dan akan mengambil langkah hukum terhadap pihak-pihak yang terlibat,” ujarnya.

 

Di luar penindakan, aparat meningkatkan patroli di area rawan dan memetakan basis potensial KKB untuk pencegahan. Upaya ini krusial di Yahukimo, di mana kekerasan sering kali terkait dengan perebutan sumber daya seperti emas, yang menarik pendulang dari berbagai daerah. Dampaknya, masyarakat lokal mengalami ketakutan, gangguan ekonomi, dan akses terbatas ke layanan kesehatan serta pendidikan. Pemerintah, melalui operasi seperti ini, tidak hanya menargetkan pelaku, tapi juga membangun dialog dengan komunitas untuk solusi jangka panjang, seperti program pembangunan yang inklusif.

 

Kedua kasus ini, dari Nabire hingga Yahukimo, mengilustrasikan tantangan keamanan di Papua yang memerlukan pendekatan holistik. Sementara penegakan hukum tegas diperlukan, integrasi dengan program sosial-ekonomi bisa menjadi kunci untuk mengurangi rekrutmen ke kelompok bersenjata. Masyarakat diharapkan berpartisipasi dengan melaporkan informasi resmi, sementara aparat terus bekerja untuk menciptakan Papua yang aman dan sejahtera. Dengan demikian, operasi seperti Damai Cartenz bukan hanya tentang konfrontasi, tapi juga tentang membangun masa depan yang lebih baik bagi semua pihak.

Post a Comment

أحدث أقدم