Pada hari Rabu, 11 Februari 2026, suasana Kampus Indralaya Universitas Sriwijaya (UNSRI) di Sumatra Selatan terasa begitu hangat dan penuh makna. Ribuan wisudawan berkumpul dalam Wisuda ke-182, menandai akhir dari perjuangan akademik mereka sekaligus awal babak baru dalam kehidupan. Di tengah acara itu, hadir seorang tamu istimewa: Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, yang akrab disapa Menko AHY. Kehadirannya bukan sekadar seremonial, melainkan membawa pesan motivasi yang dalam dan relevan bagi para lulusan muda.
Rektor Universitas Sriwijaya, Prof. Dr. Taufik Marwa, dalam
sambutannya menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas kehadiran Menko AHY.
“Wisuda hari ini terasa istimewa. Di tengah-tengah kita hadir Menteri
Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Bapak Dr. Agus
Harimurti Yudhoyono,” ujar Rektor. Ia juga berpesan kepada para
wisudawan agar selalu menjaga nama baik almamater, serta menjunjung tinggi
nilai kejujuran, amanah, etika, dan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Pesan
itu sederhana, tapi menjadi pengingat kuat bahwa gelar yang diraih bukan hanya
hak milik pribadi, melainkan amanah untuk masyarakat.
Kemudian, giliran Menko AHY naik ke panggung untuk
menyampaikan orasi motivasi. Dengan nada tenang dan penuh keyakinan, ia
mengajak para wisudawan membangun optimisme yang realistis di tengah dunia yang
semakin penuh ketidakpastian. Ia menggambarkan realitas global yang akan segera
mereka hadapi: krisis iklim yang semakin nyata, disrupsi teknologi yang
bergerak cepat, urbanisasi masif, keterbatasan sumber daya alam, serta dinamika
geopolitik yang terus berubah. Semua itu bukan sekadar berita jauh, melainkan
tantangan yang akan memengaruhi kehidupan sehari-hari.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa beradaptasi
dan menjawab semua tantangan itu dengan optimisme. Optimisme yang realistis,
realistic optimism,” ujar Menko AHY. Kata-kata itu terasa begitu pas,
karena ia tidak menawarkan harapan kosong. Sebaliknya, ia menekankan bahwa
optimisme harus dibarengi kemampuan membaca peluang dan beradaptasi dengan
cepat. Masa depan bangsa, menurutnya, sangat bergantung pada generasi muda
seperti para wisudawan UNSRI ini.
Menko AHY juga menyinggung soal kekuatan sejati bangsa
Indonesia. Ia menegaskan bahwa aset terbesar kita bukan lagi sumber daya alam
yang melimpah, melainkan kualitas sumber daya manusianya. “Aset terbesar
yang kita miliki bukan sumber daya alam. Dalam jangka panjang, yang paling
penting adalah sumber daya manusianya,” pungkasnya. Pernyataan itu
mengingatkan kita semua bahwa investasi pada pendidikan dan pengembangan
manusia adalah kunci utama kemajuan berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia membahas pembangunan infrastruktur yang
menjadi bidang tugasnya. Menko AHY menjelaskan bahwa infrastruktur bukan
sekadar soal membangun jalan, jembatan, atau gedung-gedung megah dari beton dan
baja. “Pembangunan infrastruktur bukan hanya soal beton, baja, atau
aspal. Kita ingin memastikan setiap proyek infrastruktur benar-benar
meningkatkan kualitas hidup manusia,” tambahnya. Ia ingin setiap
pembangunan fisik itu berdampak nyata: akses pendidikan yang lebih baik,
layanan kesehatan yang merata, kesejahteraan masyarakat yang meningkat, serta
pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Di akhir orasinya, Menko AHY kembali menekankan pentingnya
memulai dari diri sendiri. Ia mengajak para wisudawan untuk membangun optimisme
dari dalam, mempersiapkan kompetensi dan integritas yang kuat, serta berani
melangkah menghadapi masa depan dengan penuh keyakinan. “The world may be
unstable, the future may be unclear. But optimism gives direction, courage, and
strength for all of us,” tutupnya dengan kalimat berbahasa Inggris yang
menyentuh, seolah mengingatkan bahwa meski dunia tak sempurna, semangat positif
bisa menjadi kompas yang andal.
Usai acara wisuda, Menko AHY menyempatkan diri berbincang
dengan pimpinan dan sivitas akademika UNSRI. Ia menyampaikan apresiasi atas
undangan khusus tersebut. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak
Rektor dan segenap keluarga besar Universitas Sriwijaya yang telah mengundang
saya secara khusus untuk berbicara di hadapan para wisudawan dalam Wisuda
ke-182 Universitas Sriwijaya di Kampus Indralaya hari ini,” ujarnya.
Kepada awak media, Menko AHY menambahkan bahwa pemerintah
menaruh harapan besar kepada para lulusan UNSRI, baik dari jenjang sarjana,
magister, maupun doktor. Mereka diharapkan mampu memanfaatkan ilmu yang telah
diperoleh untuk menghadapi peluang dan tantangan nyata. “Kita semua tentu
mendoakan sekaligus memiliki harapan agar para wisudawan dan wisudawati, dari
berbagai fakultas dan jenjang pendidikan, benar-benar siap menghadapi peluang
dan tantangan, baik hari ini maupun di masa depan,” katanya.
Ia juga menjelaskan mengapa kesiapan generasi muda begitu
krusial. Dunia saat ini penuh ketidakpastian: mulai dari isu geopolitik,
keamanan, ekonomi, hingga krisis iklim dan keterbatasan sumber daya. Semua itu
menuntut Indonesia untuk lebih mandiri dan siap. “Tulang punggung
kemandirian dan kemajuan bangsa adalah sumber daya manusia yang unggul.
Universitas Sriwijaya telah berkontribusi mencetak generasi penerus bangsa yang
memiliki kualitas dan daya saing,” tutur Menko AHY.
Dalam konteks pembangunan infrastruktur ke depan, ia
menegaskan perlunya pendekatan yang lebih manusiawi. Pemerintah mendorong
proyek-proyek yang tidak hanya fisik, tapi juga memperkuat sektor pendidikan,
kesehatan, dan kesejahteraan rakyat secara langsung. “Pemerintah
mendorong pembangunan infrastruktur yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi
benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia,
pendidikan, kesehatan, serta kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Menko AHY juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara
pemerintah dan dunia akademik. Kebijakan yang baik, katanya, harus lahir dari
data, riset, serta pemanfaatan sains dan teknologi. “Kebijakan yang baik adalah
kebijakan yang berbasis data dan sains teknologi. Karena itu, kami siap membuka
dan memperkuat kolaborasi dengan dunia akademik, termasuk Universitas
Sriwijaya, untuk mendukung program-program pembangunan infrastruktur yang
dibutuhkan,” pungkasnya.
Acara wisuda itu dihadiri pula oleh sejumlah tokoh penting,
seperti Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor, Wakil Gubernur Sumatra
Selatan Cik Ujang, Bupati OKI H. Muchendi Mahzarekki, serta para pimpinan UNSRI
seperti Ketua Senat Akademik Prof. Dr. dr. Mohammad Zulkarnain, Sekretaris
Majelis Wali Amanat Prof. Dr. Ir. Anis Saggaff, dan lainnya. Menko AHY
didampingi para deputi dan staf khusus dari kementeriannya, menunjukkan betapa
seriusnya pemerintah dalam mendukung generasi muda.
Momentum wisuda seperti ini bukan sekadar perayaan
kelulusan. Ia menjadi titik awal tanggung jawab besar bagi para lulusan untuk
turut membangun bangsa. Dengan ilmu yang telah mereka peroleh dari UNSRI—salah
satu universitas tertua dan terkemuka di Sumatra—mereka diharapkan menjadi agen
perubahan yang adaptif, berintegritas, dan penuh optimisme realistis. Pesan
Menko AHY hari itu sederhana namun mendalam: hadapi ketidakpastian dengan
persiapan matang, percaya diri, dan semangat yang tak pudar. Karena pada
akhirnya, masa depan Indonesia ada di tangan generasi seperti mereka.

إرسال تعليق