Mempererat Sayap Persahabatan: Kisah SJOEP TNI AU dan Royal Brunei Air Force di Brunei Darussalam


Di awal Februari 2026, tepatnya pada tanggal 2 hingga 5 Februari, suasana di Brunei Darussalam terasa hangat bagi para perwira TNI Angkatan Udara. Sebanyak 10 perwira menengah dan perwira pertama dari Indonesia tiba di negeri yang dikenal dengan keindahan alam dan keramahannya ini. Mereka datang untuk mengikuti Senior Junior Officers’ Engagement Program (SJOEP) bersama Royal Brunei Air Force (RBAirF). Program ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan langkah nyata untuk memperkuat ikatan profesional dan persahabatan antara dua angkatan udara tetangga.

 

Program SJOEP ini lahir dari hasil Rapat Kelompok Kerja Udara (KKU) ke-10 yang digelar di Jakarta pada 28 Juli hingga 1 Agustus 2025. Saat itu, perwakilan TNI AU dan RBAirF duduk bersama, membahas berbagai potensi kerja sama. Salah satu kesepakatan penting adalah menyelenggarakan pertukaran perwira seperti ini secara rutin. Tujuannya sederhana namun mendalam: meningkatkan interoperabilitas, berbagi pengetahuan, serta membangun kepercayaan di antara para prajurit yang bertugas menjaga langit negara masing-masing.

 

Kegiatan dimulai dengan penuh hormat. Delegasi TNI AU melakukan courtesy call di Markas Besar RBAirF. Mereka disambut oleh Lieutenant Colonel (U) Pg Mohd Zulhusmi Bin Pg Mohd Roslan, yang menjabat sebagai Commander Operations Group. Dalam suasana santai namun penuh keakraban, para perwira Indonesia mendengarkan paparan tentang organisasi dan struktur RBAirF. Paparan itu memberikan gambaran jelas bagaimana angkatan udara Brunei mengelola tugasnya, mulai dari operasi penerbangan hingga dukungan logistik.

 

Setelah sesi paparan, rombongan melanjutkan ke Rimba Air Base. Pangkalan udara ini terletak berseberangan dengan Bandara Internasional Brunei, sehingga runway utamanya bahkan digunakan bersama. Di sana, delegasi melakukan peninjauan static display alutsista. Mereka melihat secara langsung pesawat-pesawat yang menjadi tulang punggung RBAirF, seperti helikopter Sikorsky S-70i Black Hawk yang tangguh untuk misi transportasi dan utilitas, serta Airbus C-295 yang andal untuk pengangkutan pasukan dan logistik. Beberapa perwira TNI AU tampak antusias berdiskusi tentang kemampuan teknis dan pengalaman operasional alutsista tersebut. Momen ini menjadi kesempatan berharga untuk saling belajar, karena meski skala berbeda, tantangan menjaga kedaulatan udara di kawasan yang sama sering kali mirip.

 

Tak hanya urusan dinas, delegasi juga diajak menikmati working lunch bersama pimpinan RBAirF. Di meja makan, percakapan mengalir ringan. Mereka berbagi cerita tentang rutinitas sehari-hari, tantangan dalam pelatihan, hingga harapan untuk kerja sama di masa depan. Suasana seperti itu membuat batas-batas formal perlahan mencair, digantikan oleh rasa saling menghargai antar sesama prajurit.

 

Selain agenda kedinasan, program ini juga menyisipkan unsur budaya dan sejarah. Delegasi TNI AU diajak berkeliling ke beberapa tempat bersejarah di Brunei Darussalam. Mereka mengunjungi situs-situs yang mencerminkan kekayaan warisan budaya Melayu Islam, serta memahami bagaimana Brunei menjaga identitasnya di tengah modernisasi. Kunjungan ini bukan sekadar wisata, melainkan bagian dari diplomasi pertahanan. Melalui pemahaman budaya yang lebih dalam, hubungan bilateral Indonesia dan Brunei menjadi lebih kokoh. Kedua negara memang memiliki banyak kesamaan: sama-sama negara Muslim, berada di kawasan ASEAN, dan saling berbagi perbatasan maritim yang luas. Kerja sama di bidang pertahanan, khususnya angkatan udara, menjadi salah satu pilar penting untuk menjaga stabilitas regional.

 

Sepanjang empat hari itu, para perwira dari kedua belah pihak aktif berdiskusi. Mereka berbagi pengalaman tentang pelatihan penerbang, manajemen operasi, hingga strategi menghadapi ancaman udara modern. Diskusi itu dilakukan dalam format yang terbuka dan egaliter, sehingga junior officer pun merasa nyaman menyampaikan pendapat. Inilah esensi dari SJOEP: tidak hanya senior yang berbagi ilmu, tapi juga junior yang membawa perspektif segar.

 

Program ditutup dengan momen yang hangat: farewell dinner bersama pimpinan dan pejabat utama RBAirF. Acara ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian kegiatan. Lieutenant Colonel (U) Pg Mohd Zulhusmi Bin Pg Mohd Roslan kembali hadir, bersama delegasi TNI AU yang dipimpin oleh seorang kolonel senior. Di malam itu, mereka saling mengucapkan terima kasih atas keramahan dan semangat berbagi. Ada ucapan-ucapan tulus tentang betapa berharganya pertemuan ini, serta harapan agar program serupa bisa dilanjutkan di masa mendatang.

 

Melalui SJOEP ini, TNI AU dan RBAirF sekali lagi menegaskan komitmen bersama. Mereka tidak hanya ingin meningkatkan profesionalisme prajurit masing-masing, tapi juga membangun kepercayaan yang kokoh. Persahabatan strategis antara Indonesia dan Brunei Darussalam bukan sekadar slogan, melainkan sesuatu yang terus dibangun melalui langkah-langkah nyata seperti ini.

 

Di tengah dinamika keamanan kawasan yang semakin kompleks, kerja sama antar angkatan udara menjadi semakin penting. Indonesia dan Brunei, sebagai sesama anggota ASEAN, memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Asia Tenggara. Program seperti SJOEP membantu mewujudkan itu, dengan cara yang paling mendasar: menghubungkan orang dengan orang, prajurit dengan prajurit.

 

Ketika delegasi TNI AU bersiap pulang, mereka membawa pulang lebih dari sekadar pengetahuan teknis. Mereka membawa kenangan tentang keramahan Brunei, tentang diskusi mendalam di bawah langit yang sama, dan tentang keyakinan bahwa langit kawasan ini akan lebih aman jika dijaga bersama. Persahabatan ini, seperti sayap pesawat, akan terus menguat seiring waktu membawa kedua negara terbang lebih tinggi, lebih aman, dan lebih dekat satu sama lain.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama