Lari trail adalah cabang olahraga lari yang dilakukan di jalur alam terbuka, seperti pegunungan, hutan lebat, pantai berpasir, atau perbukitan yang menantang. Berbeda dengan lari di jalan raya yang mulus dan terukur, lari trail menawarkan petualangan sejati: medan berbatu, tanjakan curam, turunan licin, serta pemandangan alam yang memesona. Di negara-negara Eropa seperti Inggris, Skotlandia, dan Swiss, olahraga ini sudah menjadi bagian dari tradisi dan festival lokal yang digemari masyarakat.
Di Indonesia, lari trail mulai berkembang sekitar awal
tahun 2000-an. Awalnya hanya dilakukan oleh komunitas kecil pecinta alam, namun
kini pertumbuhannya sangat pesat. Keindahan alam Indonesia yang luar biasa, dari
gunung berapi hingga pantai tropis, menjadi daya tarik utama. Kondisi geografis
negara kita yang kaya pegunungan dan bentang alam eksotis membuat lari trail
bukan sekadar olahraga prestasi, melainkan juga sarana pengembangan sport
tourism yang menjanjikan. Event-event lari trail sering kali membawa dampak
positif bagi ekonomi lokal, mulai dari meningkatkan kunjungan wisatawan hingga
menghidupkan usaha masyarakat sekitar.
Perkembangan ini semakin terlihat jelas belakangan ini.
Banyak pelari yang sebelumnya aktif di lari jalan raya kini beralih ke trail,
tertarik pada tantangan alam dan sensasi kebersamaan dengan lingkungan.
Antusiasme ini terasa di berbagai daerah, ditandai dengan semakin banyaknya
penyelenggaraan event lari trail. Bahkan, beberapa event populer sampai harus
menerapkan sistem war ticket karena peminatnya membludak.
Momentum penting terjadi pada 12 Februari 2026, di Kantor
KONI Pusat, Senayan, Jakarta. Saat itu, Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI Purn
Marciano Norman secara resmi mengukuhkan dan melantik Dr. Bima Arya Sugiarto
sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Asosiasi Lari Trail Indonesia (PP ALTI) untuk
masa bakti 2025-2029. Acara ini menjadi tonggak baru bagi organisasi yang
mengelola olahraga lari trail di tanah air.
Dalam sambutannya, Marciano Norman menekankan potensi
besar lari trail sebagai bagian dari sport tourism nasional. Ia juga memberikan
arahan penting terkait masa depan cabang olahraga ini. “Untuk lari trail
bisa dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII/2028 NTT-NTB, PP
ALTI harus berkomunikasi dengan KONI dan pemerintah provinsi NTT dan NTB
sebagai cabang olahraga pilihan tuan rumah,” jelas Marciano.
Ia juga optimistis dengan perkembangan minat masyarakat. “Lari
trail Indonesia, penggemarnya semakin hari semakin banyak, saya yakin dalam
waktu yang tidak akan lama akan ada di 38 provinsi di Indonesia karena ini
olahraga yang dicintai pecinta alam di Indonesia,” tambahnya.
Marciano menambahkan bahwa selain mengejar prestasi atlet,
PP ALTI harus memperkuat tata kelola organisasi sebagai fondasi utama.
Manajemen yang baik perlu diterapkan mulai dari tingkat nasional, provinsi,
kabupaten/kota, hingga klub-klub kecil. Soliditas dan sinergi antar pengurus
menjadi kunci agar program kerja dapat berjalan optimal dan mencapai tujuan
bersama.
Di kesempatan yang sama, Bima Arya Sugiarto menyampaikan
laporan capaian periode sebelumnya. “Pada periode yang lalu, kami sudah
merampungkan 24 pengurus provinsi, 3 Kejurnas, mengikuti 3 kejuaraan dunia dan
mengikuti ekshibisi PON XXI Aceh-Sumut 2024,” lapornya.
Ia menyoroti tren positif yang terus berlanjut. “Banyak
yang pindah dari lari road ke lari trail, antusiasme ini kami dapatkan di
berbagai daerah. Indikasinya adalah jumlah penyelenggaraan di beberapa daerah,”
jelasnya hingga ada War Ticket.
Bima juga menekankan pentingnya langkah strategis agar
lonjakan minat ini tidak hanya menjadi fenomena sesaat. “Kalau kita tidak
melakukan langkah-langkah organisasional, maka booming, tidak akan beralih
menjadi prestasi,” terangnya.
Ke depan, PP ALTI telah menyiapkan sejumlah agenda
penting. Di antaranya adalah penyelenggaraan SEATRC di Gunung Gede Pangrango,
Kejuaraan Nasional, serta partisipasi dalam Asia Pacific Trail Running
Championship (APTRC) yang akan digelar di Wuyishan, Fujian Province, Cina, pada
November 2026. Event internasional ini mencakup kategori long trail 80 km,
short trail 40 km, dan U23 trail 15 km, menjadi kesempatan bagi atlet Indonesia
untuk bertanding di level Asia-Pasifik.
Selain itu, PP ALTI terus berupaya melakukan konsolidasi
dengan federasi regional dan internasional. Harapannya, lari trail bisa masuk
sebagai cabang resmi di ajang SEA Games pada masa mendatang. Langkah ini
sejalan dengan visi membawa olahraga ini ke panggung yang lebih luas.
Tak hanya di pegunungan, lari trail juga akan
dikembangkan di pantai. PP ALTI sedang mempersiapkan format lari trail pantai
untuk dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Pantai I/2026 yang
akan digelar di Jakarta, tepatnya di kawasan Ancol. Ini menjadi kesempatan
pertama bagi lari trail pantai untuk tampil di ajang nasional bergengsi
tersebut.
Secara keseluruhan, lari trail di Indonesia sedang berada
di fase yang sangat menjanjikan. Dari komunitas kecil hingga organisasi
nasional yang solid, olahraga ini tidak hanya membangun kesehatan dan prestasi,
tapi juga memperkuat rasa cinta terhadap alam serta mendorong pariwisata
berkelanjutan. Dengan kepemimpinan baru di bawah Bima Arya Sugiarto, didukung
arahan dari KONI Pusat, serta antusiasme masyarakat yang terus tumbuh, lari
trail berpotensi menjadi salah satu cabang olahraga yang paling dicintai dan
membanggakan di Indonesia.
Melalui pembinaan yang terstruktur, event-event
berkualitas, dan kolaborasi lintas sektor, masa depan lari trail terlihat cerah.
Bagi siapa saja yang menyukai petualangan, tantangan, dan keindahan alam, lari
trail menawarkan pengalaman yang sulit dilupakan, sambil turut berkontribusi
pada pengembangan olahraga dan pariwisata nasional.

إرسال تعليق