Di tulis oleh : Endang Retioningsih, M.Psi, Psikolog
Akhir-akhir
ini, publik kerap disuguhi berita tentang dampak mengkhawatirkan pinjaman
online (pinjol). Tidak sedikit kasus yang berujung pada retaknya hubungan
suami istri karena salah satu pihak mengambil pinjaman tanpa keterbukaan. Lebih
tragis lagi, tekanan akibat jeratan utang dan penagihan yang agresif bahkan
mendorong sebagian individu pada tindakan bunuh diri sebagai jalan pintas
penyelesaian masalah. Fenomena ini menunjukkan bahwa pinjol bukan sekadar
persoalan ekonomi, melainkan juga persoalan psikologis.
Data dari Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) mencatat ribuan pengaduan terkait perilaku debt
collector pinjol, mulai dari intimidasi verbal, penyebaran data pribadi,
penagihan kepada kontak darurat, hingga dugaan kekerasan fisik. Tekanan semacam
ini menimbulkan dampak psikologis yang serius: kecemasan, ketakutan, rasa
malu, bahkan stres berkepanjangan.
Lantas, mengapa
seseorang bisa terjebak pinjol? Jawabannya tidak sesederhana karena “butuh
uang”. Dalam banyak kasus, keputusan meminjam lebih didorong oleh faktor
emosional dibanding pertimbangan rasional. Mengelola keuangan sejatinya bukan
hanya soal kemampuan berhitung, tetapi juga kemampuan mengelola emosi.
Pandangan ini
sejalan dengan pemikiran Morgan Housel dalam bukunya The Psychology of
Money, yang menyatakan bahwa keputusan finansial sering kali lebih
dipengaruhi oleh emosi dan pengalaman hidup daripada logika ekonomi. Ketika
seseorang berada dalam tekanan, cemas, takut, atau ingin segera merasa lega, maka
solusi cepat terlihat jauh lebih menarik daripada perhitungan risiko jangka
panjang.
Secara
psikologis, ada beberapa pola yang membuat pinjol terasa begitu menggoda:
Pertama, dorongan kepuasan instan (instant
gratification). Pinjol menawarkan pencairan dana dalam waktu singkat dengan
prosedur yang mudah. Otak manusia secara alami lebih tertarik pada imbalan yang
langsung diterima dibanding manfaat yang harus ditunggu. Dalam kondisi
terdesak, uang yang cair dalam hitungan menit terasa lebih nyata dibanding
bayangan bunga tinggi dan denda di kemudian hari.
Kedua, dominasi emosi atas logika. Sejumlah
kajian akademik, termasuk penelitian doktoral di Universitas Indonesia, menunjukkan
bahwa keputusan meminjam sering kali dipengaruhi kecemasan dan kebutuhan untuk
meredakan tekanan psikologis. Dalam situasi stres, kemampuan berpikir rasional
dapat melemah sehingga individu fokus pada penyelesaian jangka pendek.
Ketiga, rasa malu dan tekanan sosial. Banyak orang
menyembunyikan utang pinjol dari pasangan atau keluarga karena takut dinilai
tidak mampu mengelola keuangan. Padahal, menyimpan masalah sendirian justru
memperberat beban mental dan berpotensi memicu konflik yang lebih besar.
Keempat, persepsi “solusi cepat”. Pinjol
dipandang sebagai jalan keluar instan dari kesulitan finansial. Namun, jika
pola ini berulang, individu dapat terjebak dalam siklus ketergantungan utang
tanpa benar-benar menyelesaikan akar persoalan keuangan.
Karena itu,
pendekatan penyelesaian tidak cukup hanya melalui regulasi dan penindakan
hukum, tetapi juga melalui penguatan literasi keuangan dan literasi emosi.
Masyarakat perlu belajar menunda kepuasan, memberi jeda sebelum mengambil
keputusan finansial, serta membedakan antara kebutuhan mendesak dan keinginan
sesaat. Transparansi dalam keluarga juga menjadi kunci agar masalah tidak
berkembang menjadi krisis psikologis.
Lantas,
bagaimana cara mencegahnya?:
Pertama, latih kemampuan menunda kepuasan (delay
gratification). Biasakan membuat jeda 24 - 48 jam sebelum mengambil
keputusan finansial. Tanyakan pada diri sendiri: apakah ini kebutuhan
mendesak atau hanya keinginan? Apa konsekuensinya dalam beberapa bulan ke
depan? Adakah alternatif lain selain berutang?
Kedua, kelola emosi sebelum memutuskan. Jangan
mengambil keputusan saat sedang panik atau cemas. Tarik napas dalam beberapa
kali, tuliskan masalah keuangan secara konkret, dan pisahkan antara fakta dan
ketakutan. Langkah ini membantu logika bekerja lebih optimal.
Ketiga, bangun transparansi dalam keluarga.
Keterbukaan mengenai kondisi keuangan dapat mengurangi beban psikologis dan
mencegah konflik yang lebih besar. Diskusikan prioritas pengeluaran dan solusi
bersama tanpa saling menyalahkan.
Keempat, ubah pola pikir dari “solusi cepat” menjadi
“solusi berkelanjutan”. Susun anggaran sederhana, mulai membangun dana
darurat meski kecil, dan bedakan antara utang produktif dan konsumtif.
Tujuannya adalah membangun rasa kontrol terhadap keuangan.
Kelima, tingkatkan literasi keuangan sekaligus
literasi emosi. Memahami cara kerja bunga dan denda penting, tetapi memahami
dampak psikologis utang juga tidak kalah penting. Individu perlu belajar
strategi coping yang sehat selain berutang.
Pada akhirnya, kunci
agar seseorang bisa terlepas dari jeratan pinjol adalah kemampuan mengelola
emosi dengan baik. Saat sedang cemas, panik, atau tertekan, keputusan yang
diambil sering kali hanya bertujuan untuk merasa lega sesaat. Namun, jika
seseorang mampu mengenali perasaannya, menenangkan diri, dan tidak terburu-buru
mengambil keputusan, maka ia punya kesempatan untuk berpikir lebih jernih. Dari
situ, ia bisa mulai menyusun langkah yang lebih sehat, berdiskusi dengan
keluarga, mengatur ulang keuangan, dan mencari solusi yang tidak menambah beban
baru. Mengelola emosi secara positif
membuat seseorang tidak mudah tergoda oleh solusi instan, serta membantu
membangun kebiasaan keuangan yang lebih bijak dan berkelanjutan.

Posting Komentar