By : Endang Retioningsih, M.Psi., Psikolog
Pemberitaan tentang “Siswa SD
di Demak yang Diduga Tewas Bunuh Diri” meninggalkan duka sekaligus keprihatinan
mendalam. Seorang anak berusia 12 tahun diduga mengakhiri hidupnya setelah
mengalami tekanan emosional yang berat. Yang membuat hati semakin teriris,
tekanan tersebut diduga bersumber dari relasi yang tidak sehat antara anak dan
ibunya. Percakapan WhatsApp bernada makian yang beredar di media sosial seolah
membuka gambaran tentang rapuhnya komunikasi antara orangtua dan anak.
Sebelum terburu-buru menilai
relasi mereka, ada baiknya kita memahami kondisi psikologis anak pada usia
remaja awal. Dalam kacamata psikologi perkembangan, usia 10 - 13 tahun merupakan
fase transisi yang tidak mudah. Menurut Jean Piaget, remaja awal mulai belajar
berpikir abstrak dan logis, tetapi masih sering terjebak dalam egosentrisme
khas usia mereka. Mereka ingin diakui sebagai individu yang mampu berpikir
mandiri, sehingga kerap menguji batas dengan orangtua atau guru. Di sisi lain,
konsistensi berpikir dan kematangan emosi mereka belum sepenuhnya terbentuk.
Kondisi ini selaras dengan
pandangan Elizabeth Hurlock mengenai perkembangan emosi remaja awal. Pada fase
ini, emosi anak cenderung labil, mudah tersinggung, marah, atau merasa tidak
dimengerti. Tidak mengherankan jika hubungan dengan orangtua sering kali
dipenuhi konflik, sementara teman sebaya justru menjadi sumber dukungan
emosional yang terasa lebih “aman” bagi mereka.
Pubertas sering menjadi titik
awal meningkatnya ketegangan dalam keluarga. Remaja biasanya lebih sering
berkonflik dengan ibu dibandingkan ayah, kemungkinan karena ibu lebih terlibat
dalam pengaturan kehidupan sehari-hari anak. Konflik tersebut umumnya berputar
pada hal-hal yang tampak sepele: tugas sekolah, pekerjaan rumah, kamar yang
berantakan, pilihan musik, cara berpakaian, hingga batasan jam malam. Namun,
jika komunikasi tidak terjalin dengan sehat, persoalan-persoalan kecil ini
dapat menumpuk dan berubah menjadi tekanan emosional yang berat bagi anak.
Di satu sisi, remaja awal
sedang berusaha menunjukkan kemandirian berpikir. Di sisi lain, orangtua masih
memegang kendali penuh atas kehidupan anak. Ketidakseimbangan ini menjadi titik
rawan konflik. Anak merasa tidak dipercaya dan tidak didengarkan, sementara
orangtua merasa anak belum cukup matang untuk mengambil keputusan sendiri.
Ketika kontrol terlalu ketat dan komunikasi dipenuhi nada menghakimi, anak bisa
merasa tertekan, tidak berharga, bahkan kehilangan ruang aman untuk
mengekspresikan emosinya.
Lalu, apa yang bisa dilakukan
orangtua? Kunci utamanya adalah membangun komunikasi yang terbuka dan empatik.
Anak perlu diajak berdiskusi, bukan diinterogasi. Orangtua perlu belajar
mendengarkan tanpa langsung menghakimi. Mengakui perasaan anak, meskipun tampak
sepele, dapat memberi dampak besar. Kalimat sederhana seperti, “Mama ngerti
kamu lagi capek dan kesal,” sering kali lebih menenangkan daripada nasihat
panjang yang disampaikan dengan nada tinggi. Melibatkan anak dalam pengambilan
keputusan kecil juga membantu mereka belajar berpikir, bertanggung jawab, dan
merasa dihargai. Selain itu, dukungan dari teman sebaya yang positif perlu
diarahkan dan difasilitasi, karena pada usia ini pertemanan memegang peran penting
dalam menjaga keseimbangan emosi anak.
Memandang peristiwa ini bukan
sekadar tragedi individual, melainkan alarm bagi kita semua tentang pentingnya
kesehatan mental anak dan kualitas relasi dalam keluarga. Anak mungkin belum
matang secara emosi, tetapi mereka sangat peka terhadap kata-kata dan sikap
orang dewasa di sekitarnya. Ucapan yang keluar dari mulut orangtua dapat
menjadi sumber kekuatan, namun juga dapat berubah menjadi luka yang menetap
dalam ingatan anak. Oleh karena itu, memahami tahap perkembangan anak,
membangun komunikasi yang hangat, serta menciptakan ruang aman bagi anak untuk
menjadi dirinya sendiri bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan mendasar.
Harapannya, dengan kesadaran ini, kita dapat mencegah tragedi serupa terulang
dan membantu anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang lebih aman, suportif, dan
penuh penerimaan.

إرسال تعليق