Pada 19 Februari 2026, di ruang pertemuan bergengsi di Washington DC, terjadi momen diplomatik yang jarang terlihat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka memuji Presiden Indonesia Prabowo Subianto di hadapan para pemimpin dunia dalam Inaugural Meeting of the Board of Peace (BoP). Trump menyebut Prabowo sebagai pemimpin yang “sangat tangguh, cerdas, dan dihormati semua orang”, bahkan mengaku “tidak ingin berhadapan dengannya”. Pujian itu bukan sekadar basa-basi. Di baliknya ada pengakuan atas posisi strategis Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, dalam upaya menjaga stabilitas global, khususnya di Gaza, Palestina.
Pertemuan itu bukan hanya ajang saling memuji. Di sana
diumumkan pembentukan International Stabilization Force (ISF), pasukan
stabilisasi multinasional yang akan mengawasi gencatan senjata dan mendukung
transisi menuju pemerintahan sipil di Gaza. Indonesia ditunjuk sebagai Wakil
Komandan ISF dan berkomitmen mengirim hingga 8.000 personel TNI
untuk misi non-tempur: bantuan kemanusiaan, medis, pelatihan kepolisian sipil,
serta rekonstruksi infrastruktur dasar. Negara-negara lain yang bergabung
termasuk Maroko, Albania, Kosovo, Kazakhstan, Mesir, dan Yordania. Langkah ini
menandai pergeseran penting: dari seruan moral menjadi aksi konkret di
lapangan.
Konteks Geografis:
Mengapa Gaza Begitu Sulit Distabilkan?
Gaza adalah wilayah sempit seluas 365 km², kurang lebih
seukuran Kabupaten Sleman, dengan panjang 41 km dan lebar hanya 6 - 12 km. Di
wilayah sekecil itu tinggal lebih dari 2,2 juta jiwa, menjadikannya salah satu
daerah terpadat di dunia (sekitar 6.000 jiwa/km²). Di sebelah barat berbatasan
dengan Laut Mediterania, selatan dengan Semenanjung Sinai (Mesir) sepanjang 11
km, dan timur serta utara dengan Israel sepanjang 51 km. Dua perlintasan utama,
Rafah (ke Mesir) dan Erez/Kerem Shalom (ke Israel), menjadi pintu masuk dan
keluar satu-satunya, sering kali ditutup karena alasan keamanan.
Kepadatan penduduk yang ekstrem, dikombinasikan dengan
blokade darat-laut-udara sejak 2007, membuat Gaza sangat rentan terhadap krisis
kemanusiaan. Air tanahnya sudah tercemar garam dan limbah, listrik hanya
tersedia 4 - 8 jam sehari sebelum eskalasi terbaru, dan lebih dari 70% penduduk
bergantung pada bantuan internasional bahkan sebelum perang 2023 - 2025.
Geografi sempit ini membuat setiap serangan militer atau penghancuran
infrastruktur berdampak langsung pada seluruh populasi, tidak ada “daerah
aman” yang cukup luas untuk evakuasi massal.
Akar Penyebab Konflik:
Sejarah yang Terus Berulang
Konflik Israel-Palestina bukanlah pertikaian baru.
Akarnya dapat ditelusuri ke akhir abad ke-19 ketika gelombang imigrasi Yahudi
ke Palestina meningkat akibat Zionisme dan pogrom di Eropa Timur. Deklarasi
Balfour 1917 yang mendukung “rumah nasional bagi bangsa Yahudi” di
Palestina memicu ketegangan dengan penduduk Arab yang telah tinggal di sana
selama berabad-abad.
Setelah Perang Dunia II dan Holocaust, PBB mengusulkan
pembagian wilayah pada 1947. Rencana itu diterima pihak Yahudi tetapi ditolak
pihak Arab, memicu Perang 1948. Akibatnya, sekitar 750.000 warga Palestina
mengungsi (dikenal sebagai Nakba). Gaza kemudian berada di bawah kendali Mesir
hingga Perang Enam Hari 1967, ketika Israel menduduki Gaza, Tepi Barat, Yerusalem
Timur, Sinai, dan Dataran Tinggi Golan.
Siklus kekerasan berlanjut: Intifada, Oslo Accords yang
gagal total, pengambilalihan Gaza oleh Hamas pada 2007, blokade Israel-Mesir,
serta beberapa operasi militer besar (2008–2009, 2014, 2021, dan eskalasi 2023–2025).
Penyebab utama yang terus muncul adalah:
-
Sengketa tanah dan hak pengungsi
-
Ketidaksepakatan status Yerusalem
-
Pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat
-
Perpecahan internal Palestina (Fatah vs
Hamas)
-
Ketidakpercayaan mendalam antarpihak dan campur
tangan kekuatan eksternal
Dampak terhadap
Infrastruktur: Kerusakan yang Sulit Dibayangkan
Menurut laporan PBB dan Bank Dunia hingga awal 2026,
lebih dari 83% bangunan di Gaza rusak atau hancur total. Kerugian infrastruktur
kritis diperkirakan mencapai US$18,5 miliar. Beberapa angka mencolok:
-
Sekitar 100.000 - 120.000 unit rumah hancur atau
rusak parah
-
Lebih dari 70 juta ton puing berserakan
-
Jaringan air, listrik, dan sanitasi lumpuh
hampir total
-
350 km terowongan bawah tanah (sebagian
digunakan militer, sebagian sipil) harus dinetralisir
-
Sistem transportasi (jalan, pelabuhan kecil,
bandara Gaza yang sudah lama ditutup) hancur
-
Fasilitas kesehatan dan pendidikan rata-rata
rusak 70 - 90%
Akibatnya, lebih dari 90% penduduk Gaza hidup dalam
kondisi rentan ekstrem. Rekonstruksi yang direncanakan Board of Peace sangat
ambisius: tahap awal membangun kembali >100.000 rumah di Rafah, membersihkan
puing, memulihkan air dan listrik, lalu tahap jangka panjang menargetkan
>400.000 unit hunian baru, pembangunan pelabuhan, bandara, kawasan industri
pesisir, serta pembentukan ekonomi mandiri.
Peran Indonesia: Fakta,
Analisis, dan Tantangan
Indonesia bukan pemain baru dalam misi perdamaian PBB, negara
ini termasuk 10 kontributor terbesar pasukan perdamaian selama beberapa dekade.
Namun keterlibatan di Gaza memiliki bobot politik dan simbolis yang berbeda:
1. Fakta
- Komitmen 8.000
personel TNI (non-kombatan)
- Jabatan Wakil
Komandan ISF
- Fokus: medis,
kemanusiaan, pelatihan polisi sipil, rekonstruksi awal (terutama sektor
Rafah)
- Dukungan penuh
terhadap rencana 20 poin Trump dan solusi dua negara
2. Penyebab
keterlibatan
- Konsistensi
politik luar negeri bebas aktif dan dukungan historis terhadap Palestina
- Populasi
Muslim terbesar di dunia → legitimasi domestik kuat
- Keinginan
meningkatkan peran global Indonesia di era Prabowo
- Peluang menguji
kemampuan diplomasi dan militer di medan yang sangat kompleks
3. Dampak yang
diharapkan
- Percepatan
bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi
- Penguatan
citra Indonesia sebagai aktor netral dan kredibel di dunia Islam
- Kontribusi
nyata terhadap stabilitas regional Timur Tengah
4. Tantangan
utama
- Risiko
operasional di zona multi-ancaman (ranjau, puing, potensi tembakan
sporadis)
- Ketidakpastian
politik: apakah ISF benar-benar netral atau condong ke satu pihak?
- Perpecahan
internal Palestina → siapa yang akan mengelola pemerintahan sipil nanti?
- Resistensi
dari kelompok-kelompok radikal yang menolak kehadiran pasukan asing
- Tekanan
domestik jika misi dianggap “terlalu dekat dengan AS-Israel”
- Skala
kerusakan yang sangat besar membutuhkan dana dan koordinasi puluhan tahun
Optimisme yang Waspada
Prabowo Subianto berulang kali menyatakan keyakinannya: “Kami
tahu ada banyak hambatan dan kesulitan, tetapi kami sangat optimistis.”
Optimisme itu penting, namun harus diimbangi kewaspadaan realistis. Gaza bukan
hanya soal gencatan senjata sementara, melainkan membangun kembali kehidupan
dari puing-puing, secara fisik, ekonomi, dan politik.
Indonesia, dengan komitmen 8.000 prajurit, posisi Wakil
Komandan, dan pengalaman perdamaian selama puluhan tahun, kini berada di posisi
yang jarang dimiliki negara berkembang: menjadi salah satu penentu arah transisi
pasca-konflik di salah satu titik paling panas di dunia. Keberhasilan atau
kegagalan misi ini tidak hanya menentukan nasib Gaza, tetapi juga kredibilitas
Indonesia sebagai kekuatan menengah yang mampu berkontribusi pada perdamaian
global.
Jalan masih panjang. Namun untuk pertama kalinya dalam
beberapa dekade, ada kerangka kerja internasional yang melibatkan banyak negara
Muslim, didukung komitmen dana besar, dan diiringi janji rekonstruksi ambisius.
Indonesia memilih untuk tidak hanya menonton dari kejauhan, melainkan turun
tangan membangun.


إرسال تعليق