Pagi itu, Rabu 11 Februari 2026, langit di wilayah Nias Selatan masih gelap oleh awan mendung tebal. Hujan deras mulai turun sejak subuh, dan tak kunjung reda hingga siang hari. Air hujan yang mengalir deras dari pegunungan dan permukiman membuat sejumlah ruas jalan utama di kabupaten ini tergenang parah. Ketinggian air mencapai lutut bahkan pinggang orang dewasa di beberapa titik. Akibatnya, lalu lintas benar-benar lumpuh. Mobil-mobil kecil tak berani melintas, motor pun sulit dikendarai, sementara warga yang hendak beraktivitas sehari-hari terjebak di rumah atau di tempat kerja.
Bagi masyarakat Nias Selatan, situasi seperti ini bukan
hal baru, tapi tetap saja membawa kesulitan besar. Anak-anak sekolah tak bisa
berangkat belajar, ibu-ibu yang biasa berbelanja ke pasar terhenti, pekerja
harian kehilangan kesempatan mencari nafkah, dan lansia yang membutuhkan
pertolongan medis pun kesulitan bergerak. Genangan air yang deras mengalir
membawa lumpur dan sampah, membuat jalanan licin dan berbahaya. Banyak warga
yang terpaksa menunggu di pinggir jalan, berharap air segera surut atau ada bantuan
datang.
Di tengah kondisi darurat itu, Satuan Tugas
Penanggulangan Bencana (Satgas Gulbencal) Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal)
Nias langsung bergerak. Mereka tidak menunggu lama. Begitu laporan masuk
tentang banjir yang melumpuhkan akses jalan, prajurit-prajurit Lanal Nias
segera menyiapkan truk dinas militer yang memang dirancang untuk medan berat.
Kendaraan-kendaraan berbodi tinggi ini menjadi andalan karena mampu melintasi
genangan air dalam tanpa masalah.
Aksi evakuasi dimulai dengan cepat dan terorganisir.
Prajurit TNI AL turun langsung ke lokasi-lokasi terdampak. Mereka mendekati
warga yang terjebak, mengajak mereka naik ke truk dengan sabar dan hati-hati.
Anak-anak sekolah yang biasanya berjalan kaki atau naik angkutan umum kini
dijemput satu per satu. Para ibu-ibu yang membawa barang bawaan pun dibantu
naik dengan tenang. Bahkan lansia yang berjalan pelan mendapat perhatian
khusus; prajurit menggendong atau menopang mereka agar aman sampai ke atas
kendaraan.
Dengan bergantian, rombongan warga dievakuasi melintasi
banjir. Truk-truk itu melaju perlahan tapi pasti, melewati genangan yang airnya
mengalir deras. Di dalam truk, warga merasa lebih tenang karena tahu mereka
sedang ditolong oleh orang-orang yang terlatih. Prajurit Lanal Nias tak hanya
mengemudikan kendaraan, tapi juga turun tangan membantu warga naik dan turun.
Mereka memastikan tak ada yang terjatuh, tak ada yang kedinginan karena hujan
masih deras, dan yang terpenting, keselamatan semua orang tetap jadi prioritas
utama.
Tidak berhenti di situ, prajurit juga mengambil peran
mengatur lalu lintas di sekitar area banjir. Mereka berdiri di persimpangan
atau titik rawan, memberi isyarat kepada pengendara agar tidak memaksakan diri
menerobos genangan. Banyak kendaraan kecil yang awalnya nekat ingin lewat, tapi
setelah diingatkan prajurit, mereka memilih berbalik arah atau menunggu.
Langkah ini penting untuk mencegah kemacetan yang lebih parah dan menghindari
kecelakaan yang bisa membahayakan nyawa. Pengaturan arus lalu lintas seperti ini
membantu situasi tetap terkendali meski hujan terus mengguyur.
Sepanjang proses evakuasi, suasana di lapangan terasa
hangat meski cuaca dingin dan basah. Prajurit-prajurit itu bekerja dengan sigap
tapi tetap ramah. Mereka berbincang singkat dengan warga, menanyakan apakah ada
yang sakit atau butuh bantuan lebih, sambil terus fokus pada tugas. Warga yang
dievakuasi pun banyak yang mengucapkan terima kasih. Ada yang bilang,
"Makasih Pak TNI, kalau nggak ada Bapak-bapak ini, kami nggak tahu mau ke
mana." Ada pula yang tersenyum lega setelah berhasil sampai ke tempat
aman.
Aksi cepat dari Satgas Gulbencal Lanal Nias ini bukan
sekadar tugas rutin. Ini adalah bentuk nyata kehadiran TNI Angkatan Laut di
tengah masyarakat, terutama saat dibutuhkan. Di saat bencana alam datang
tiba-tiba, prajurit TNI AL menunjukkan bahwa mereka siap sedia membantu, tanpa
pandang bulu. Mereka hadir bukan hanya untuk menjaga perairan, tapi juga untuk
melindungi rakyat di darat ketika situasi darurat terjadi.
Hal ini sejalan dengan komitmen kuat TNI Angkatan Laut
untuk selalu berada di sisi masyarakat dalam menghadapi bencana. Seperti yang
sering ditegaskan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr.
Muhammad Ali, tugas kemanusiaan dan pengabdian kepada bangsa serta negara
adalah bagian tak terpisahkan dari identitas prajurit TNI AL. Bukan hanya soal
kekuatan tempur di laut, tapi juga kepekaan dan keberanian untuk turun tangan
membantu sesama saat darat dilanda musibah.
Banjir di Nias Selatan hari itu memang membuat banyak
orang kesulitan, tapi berkat respons cepat prajurit Lanal Nias, ratusan warga
bisa selamat dan melanjutkan aktivitas dengan lebih aman. Hujan mungkin masih
turun, air mungkin belum sepenuhnya surut, tapi kehadiran mereka memberikan
harapan dan rasa aman bagi masyarakat. Di tengah cobaan alam, solidaritas dan
gotong royong seperti inilah yang membuat bangsa kita tetap kuat.
Kisah ini mengingatkan kita semua bahwa bencana bisa
datang kapan saja, tapi selama ada pihak yang sigap membantu—seperti prajurit
TNI AL—masyarakat tak pernah benar-benar sendirian. Terima kasih kepada para
prajurit yang bekerja tanpa lelah di bawah hujan deras. Kehadiran mereka adalah
bukti bahwa pengabdian sejati tak mengenal waktu dan tempat.



Posting Komentar