Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, kembali dilanda banjir setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Minggu malam (15/2) hingga Senin pagi. Curah hujan tinggi yang berlangsung sekitar delapan jam, ditambah kiriman air dari hulu Sungai Glugu, Sungai Jajar, dan Sungai Tuntang, menyebabkan sejumlah tanggul jebol dan air meluap ke permukiman warga.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan
mencatat 34 desa di sembilan kecamatan terdampak, dengan total 5.214 kepala
keluarga terimbas dan satu rumah rusak berat.
Titik Terparah dan
Dampak Luapan Sungai
Salah satu lokasi terdampak cukup parah berada di Kecamatan
Tegowanu. Tanggul Sungai Cabean di Desa Tajemsari dilaporkan jebol akibat
tekanan debit air yang meningkat signifikan. Luapan air sempat mengganggu akses
jalan raya Purwodadi, Semarang.
Di wilayah ini, ratusan kepala keluarga terdampak dan
puluhan hektare sawah tergenang. Ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 100
sentimeter sebelum berangsur surut.
Kerusakan tanggul juga terjadi di beberapa titik lain,
termasuk di Kecamatan Karangrayung dan Kedungjati. Sementara itu, di Kelurahan
Kalongan, Kecamatan Purwodadi, genangan mencapai sekitar satu meter dan
berdampak pada lebih dari seribu kepala keluarga.
Gangguan Infrastruktur
dan Transportasi
Banjir tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga
mengganggu infrastruktur penting. Jalur kereta api lintas utara Jakarta - Surabaya
sempat terdampak akibat rel terendam di salah satu petak jalur. Operasional
kereta dilakukan dengan pengamanan tambahan dan sebagian perjalanan dialihkan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak banjir di Grobogan
tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga berpengaruh terhadap konektivitas
regional.
Mengapa Grobogan Rawan
Banjir?
Secara geografis, Grobogan berada di kawasan hilir
sejumlah aliran sungai besar. Kombinasi topografi dataran rendah dan intensitas
hujan tinggi membuat wilayah ini rentan terhadap genangan, terutama ketika
debit kiriman air dari hulu meningkat dalam waktu bersamaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, banjir musiman memang
kerap terjadi di sejumlah kecamatan di Grobogan saat puncak musim hujan. Faktor
sedimentasi sungai, kondisi tanggul yang menua, serta alih fungsi lahan di hulu
turut disebut sebagai faktor yang dapat memperparah risiko banjir.
Penguatan tanggul darurat memang dilakukan saat kejadian,
namun perbaikan permanen dan normalisasi sungai menjadi tantangan jangka panjang.
Status Siaga dan
Potensi Susulan
Hingga siang hari, tinggi muka air di Bendung Sedadi
berada pada level siaga meski mulai menurun. Namun, prakiraan cuaca dari BMKG
menyebut potensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih mungkin
terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Kondisi tersebut membuat risiko banjir susulan tetap
perlu diwaspadai, terutama di wilayah dengan tanggul yang mengalami kerusakan.
Upaya Penanganan
BPBD bersama TNI, Polri, dan relawan melakukan evakuasi
warga di titik genangan terdalam serta mendistribusikan bantuan logistik.
Sejumlah warga melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman.
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk
memantau informasi resmi serta segera melapor apabila terjadi peningkatan debit
air di lingkungan sekitar.
Tantangan Mitigasi ke
Depan
Banjir yang berulang setiap musim penghujan menunjukkan
perlunya pendekatan yang lebih komprehensif dalam mitigasi risiko bencana.
Selain respons darurat, langkah seperti normalisasi sungai, penguatan tanggul
permanen, serta sistem peringatan dini berbasis komunitas menjadi bagian
penting dalam pengurangan risiko.
Tanpa penanganan jangka panjang, potensi kerugian sosial
dan ekonomi akibat banjir musiman akan terus berulang.

Posting Komentar