Pagi yang mencekam melanda Sulawesi Utara dan sebagian Maluku Utara pada Kamis, 2 April 2026. Tepat pukul 05.48 WIB, gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,6 mengguncang wilayah laut sekitar 129 kilometer tenggara Kota Bitung. Getaran kuat yang berlangsung 10 hingga 20 detik itu langsung memicu kepanikan massal. Warga berhamburan keluar rumah, sementara bangunan bergoyang hebat di beberapa daerah.
Pusat gempa berada pada koordinat 1,25 Lintang Utara dan
126,27 Bujur Timur, dengan kedalaman hiposenter sekitar 62 kilometer. Meski
tergolong gempa dangkal, kekuatannya cukup dahsyat karena dipicu oleh deformasi
kerak bumi dengan mekanisme thrust fault atau pergerakan naik. Wilayah ini
memang sering menjadi titik rawan, berada di zona pertemuan lempeng Eurasia,
Filipina, dan Australia yang aktif secara seismik.
Tak hanya guncangan utama, BMKG segera mengeluarkan
peringatan dini potensi tsunami. Gelombang laut akhirnya benar-benar
terdeteksi, meski dengan ketinggian relatif kecil. Pantauan tide gauge
menunjukkan tsunami mencapai 0,2 hingga 0,75 meter di lima wilayah: tiga di
Maluku Utara dan dua di Sulawesi Utara. Contohnya, di Halmahera Barat tercatat
0,3 meter pada pukul 06.08 WIB, dan di Bitung sekitar 0,2 meter pada pukul
06.15 WIB. Meski tidak sebesar prediksi awal hingga 3 meter, kewaspadaan tetap
tinggi karena potensi gelombang susulan.
Dampak paling terlihat di Manado. Gedung KONI di
kawasan Sario mengalami kerusakan parah hingga sebagian ambruk. Reruntuhan
kanopi bagian utara gedung menimpa seorang warga, menyebabkan satu korban jiwa.
Korban adalah Deice Lahia, seorang lansia berusia 69 tahun yang kebetulan
berada di sekitar lokasi, diduga pemilik kantin di gedung tersebut. Tragisnya,
ini bukan kali pertama gedung itu rusak akibat gempa; sebelumnya sudah
terdampak gempa M6,3 pada 2023.
Di Kota Ternate, Maluku Utara, getaran terasa
sangat kuat dengan intensitas V-VI MMI. Banyak penduduk terkejut, berlarian
keluar rumah, dan sebagian bangunan mengalami kerusakan ringan seperti plester
dinding yang jatuh. Sebuah gereja di Kecamatan Pulau Batang Dua serta dua unit
rumah di Kelurahan Ganbesi, Ternate Selatan, dilaporkan rusak. Sementara di
Bitung sendiri, pendataan kerusakan masih terus dilakukan oleh BPBD setempat.
Intensitas gempa bervariasi di berbagai wilayah. Di Ibu
dan Manado mencapai IV-V MMI, di mana orang banyak yang terbangun atau
merasakan getaran kuat. Sementara di Gorontalo dan sekitarnya lebih ringan,
intensitas III-II MMI, seperti getaran truk lewat atau benda ringan bergoyang.
Hingga pagi hari, BMKG mencatat belasan hingga puluhan
gempa susulan (aftershock). Yang terbesar mencapai magnitudo 5,5–5,8.
Gempa-gempa susulan ini berpusat di laut dan sejauh ini tidak berpotensi
tsunami baru, tapi tetap membuat warga was-was.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa
pemodelan menunjukkan potensi tsunami dengan status siaga di beberapa daerah
seperti Kota Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung, serta sebagian Minahasa.
Sementara status waspada diberlakukan di Kepulauan Sangihe dan beberapa wilayah
lain di Sulawesi Utara. Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat
Triyono, juga menyampaikan bahwa gelombang tsunami telah terpantau di
sejumlah titik dengan ketinggian bervariasi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
langsung mengimbau masyarakat pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara untuk
tetap menjauhi pantai dan tidak kembali ke area rawan sebelum ada pernyataan
resmi dari pemerintah bahwa situasi aman. “Masyarakat diminta tetap
tenang, mengikuti arahan aparat setempat, serta tidak menyebarkan informasi
yang belum terverifikasi,” tegas Kepala Pusat Data, Informasi dan
Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.
Hingga berita ini dirangkum, pemantauan terus dilakukan.
Situasi masih dinamis, dan warga diimbau selalu siap siaga terhadap kemungkinan
aftershock berikutnya. Semoga tidak ada korban tambahan dan pemulihan berjalan
cepat.

Posting Komentar