Malam di Lapangan Banteng, Jakarta, berubah jadi lautan cahaya yang memukau. Ribuan lampion berwarna-warni bergoyang pelan ditiup angin malam, menerangi jalan raya, taman, dan setiap sudut lapangan. Ini bukan sekadar pesta lampu biasa, ini adalah Imlek Festival 2577 bertema Harmoni Imlek Nusantara, perayaan Tahun Baru Imlek pertama di Indonesia yang berskala nasional, digelar mulai 22 Februari hingga 3 Maret 2026.
Festival
ini bukan hanya tentang merayakan Imlek, tapi juga tentang menunjukkan kekayaan
budaya Nusantara yang berpadu harmonis dengan tradisi Tionghoa. Kolaborasi
lintas budaya, pertunjukan seni, kuliner beragam, hingga kegiatan sosial jadi
daya tarik utama. Yang spesial, acara ini berlangsung tepat di bulan Ramadan,
menciptakan momen unik di mana umat Muslim berbuka puasa sambil menikmati
gemerlap Imlek, dan semua orang bisa merasakan kebersamaan lintas agama dan
budaya.
Pusat
perhatian pengunjung langsung tertuju pada instalasi lampion raksasa karya
Erika Richardo, pelukis sekaligus content creator yang namanya sudah dikenal
luas. Lampion ikonik ini berdiri megah di tengah area festival, tepat di spot
kuliner yang ramai. Desainnya luar biasa: detail awan-awan mengapung,
bunga-bunga mekar indah, hingga gambar kuda yang melambangkan tahun shio baru.
Ukuran besarnya saja sudah bikin takjub, tapi detail artistiknya yang kaya
membuat siapa pun berhenti lama untuk berfoto dan mengagumi.
Jessica
Novengel (27), yang juga bertugas sebagai master of ceremony di acara ini, tak
bisa menyembunyikan kekagumannya saat berdiri tepat di depan lampion terbesar
itu. “Kebetulan aku lagi berada di lampion terbesar yang ada di Imlek
Festival kali ini. Karya dari content creator Erika Richardo. Kita bisa lihat
mulai dari ada awan-awan, bunga, juga gambar kuda,” ujar Jessica dengan
semangat. Menurutnya, desain lampion tersebut bukan hanya megah secara ukuran,
tetapi juga kaya detail artistik. “Bentuknya keren sekali, juga menjadi
ikon dari acara Imlek Festival kali ini,” katanya.
Festival
ini menghadirkan beragam elemen budaya yang memperkaya pengalaman pengunjung.
Ada pertunjukan seni tradisional, atraksi Barongsai yang energik, pakaian adat
dari berbagai daerah Nusantara, alat musik etnik, hingga kolaborasi lintas
negara. Misalnya, ada sentuhan dari Korea Selatan dan rencana partisipasi
perwakilan dari Tiongkok, menjadikan acara ini ruang pertemuan budaya
internasional. Semua itu dikemas dalam semangat sinergi antara Kementerian
Ekonomi Kreatif (Ekraf) dan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia
(PSMTI), contoh nyata bagaimana budaya bisa jadi kekuatan pemersatu bangsa.
Jessica
berharap festival ini bukan sekadar event satu kali. “Semoga ke depannya
akan ada Imlek Festival tahun-tahun setelahnya,” ucapnya penuh harap.
Yang
membuat Imlek Festival 2577 semakin spesial adalah keberadaannya di tengah
bulan Ramadan. Lapangan Banteng berubah jadi spot ngabuburit favorit warga
Jakarta. Mulai pukul 15.00 hingga 22.00 WIB setiap hari, pengunjung bisa
menikmati festival secara gratis tanpa tiket masuk. Ada bazar ratusan brand
lokal dan UMKM yang menawarkan berbagai produk, mulai dari fashion hingga
oleh-oleh. Yang paling ramai tentu area kuliner: berburu takjil dan hidangan
buka puasa, sambil menunggu azan Maghrib.
Tak
hanya hiburan, festival ini juga punya sisi kepedulian sosial yang kuat. Salah
satu yang paling diminati adalah layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pengunjung
bisa memeriksakan diri secara lengkap tanpa biaya, mulai dari kesehatan mulut,
mata, telinga, hingga pemeriksaan jantung. Yasmin Nuramadani (25), salah
satu pengunjung yang memanfaatkan layanan ini, datang khusus untuk cek
kesehatan sambil berbuka puasa dan menikmati suasana.
“Menurut saya (Imlek Festival) bermanfaat karena memberikan kesempatan
untuk orang-orang di Jakarta CKG, juga ngabuburit di bulan puasa ini,” ujar Yasmin saat ditemui di Lapangan Banteng pada
Senin, 23 Februari 2026. Ia menambahkan bahwa pemeriksaan cukup komprehensif
untuk deteksi dini risiko penyakit. “Banyak (pemeriksaannya), mulai dari
kesehatan mulut, mata, telinga, terus lagi nunggu pemeriksaan kesehatan jantung
lengkap,” tuturnya.
Bagi
Yasmin, festival ini benar-benar mencerminkan keberagaman Indonesia.
“Menurut saya bagus karena beragamnya kelihatan sih. Jadi enggak hanya di Imlek
saja, tapi karena bertepatan juga di bulan puasa, jadi terasa juga Ramadannya
di acara,” ucapnya. Ia berharap acara seperti ini terus berlanjut. “Semoga
lancar terus acaranya dan bisa diadain lebih sering lagi,” katanya.
Tak
kalah antusias adalah kegiatan donor darah yang juga digelar di lokasi. Antrean
panjang terlihat, terutama dari warga yang ingin berkontribusi di tengah stok
darah yang sedang menipis. Hana, salah satu pendonor, datang khusus
setelah melihat info di media sosial. “Ini juga bukan donor darah pertama
ya. Tapi ini yang donor darah pertama yang dilakukan pas ada event Imlek
seperti ini,” ujarnya usai mendonorkan darah.
Menurut
Hana, menggabungkan kegiatan sosial dengan event budaya sangat efektif. “Menurut
saya sih ini bagus. Apalagi ada stok darah yang lagi menipis, kayak darah A
sama darah AB. Kebetulan saya sendiri darah A, makanya saya tergugah pas
melihat postingan ada donor darah di sini. Jadi saya berpartisipasi,”
katanya. Ia menambahkan bahwa panitia sudah mempersiapkan dengan baik, termasuk
mencantumkan opsi donor di bulan puasa sejak formulir pendaftaran. “Dari
formulirnya sendiri itu sudah ada keterangan kalau kita bersedia donor pas
bulan puasa,” ucapnya.
Bagi
Hana, festival ini lebih dari sekadar perayaan. “Yang merayakan Imlek itu
termasuk minoritas. Jadi biar kita lebih tahu tentang kebudayaannya, jadi kita
enggak asing dengan budaya-budaya Tionghoa,” tuturnya. Ia berharap kegiatan ini
terus jadi simbol kebersamaan. “Kita harus hidup berdampingan,” katanya
tegas.
Menjelang
waktu berbuka puasa, suasana semakin ramai. Deretan stan UMKM dipenuhi
pengunjung yang antre panjang. Budi, pemilik usaha minuman es tebu,
merasakan langsung manfaatnya. “Ini baru pertama kali yang seperti ini,
bagus. Kalau bisa setiap tahun diadakan juga seperti ini,” katanya
senang. Ia menyebut momentum Imlek yang berbarengan dengan Ramadan membawa
berkah tersendiri. “Ini kan kebetulan Imlek berbarengan dengan Ramadan.
Jadi menjelang buka puasa itu momen ramainya. Ramai sekali, sampai antre-antre,”
tuturnya.
Budi
optimistis antusiasme akan terus naik hingga penutupan. “Masih ada
delapan hari ke depan sampai tanggal satu. Bagi masyarakat Jakarta datang saja,
biar memenuhi Lapangan Banteng ini,” ajaknya.
Imlek
Festival 2577 bukan sekadar pesta lampion dan kuliner, ini adalah bukti hidup
bahwa keberagaman Indonesia bisa dirayakan bersama. Dari cahaya lampion Erika
Richardo yang memukau, hingga senyum puas pengunjung yang berbuka puasa sambil
berbagi cerita lintas budaya, semuanya menyatu dalam harmoni yang indah.
Festival
ini terbuka untuk umum tanpa biaya masuk dan berlangsung setiap hari pukul
15.00–22.00 WIB. Mau ikut merasakan sendiri? Langsung cek rangkaian acara
lengkap di Instagram resmi @imlekfestival. Jangan sampai ketinggalan, datanglah
ke Lapangan Banteng, rasakan sendiri keajaiban Harmoni Imlek Nusantara di
tengah Ramadan yang penuh berkah! Gong Xi Fa Cai dan selamat berpuasa!



Posting Komentar