By : Endang Retioningsih, M.Psi, Psikolog
Banyak pasangan suami istri datang ke konseling dengan perasaan yang sama: merasa tidak dipahami oleh pasangannya. Salah satu keluhan yang sering muncul adalah anggapan bahwa pasangan kurang peka terhadap kebutuhan dan keinginan kita.
Seorang istri, misalnya, berharap suaminya bisa mengerti
apa yang ia butuhkan tanpa harus selalu menjelaskannya panjang lebar. Ia ingin
dipahami, bukan diminta terus menerus untuk menjelaskan perasaannya. Di sisi
lain, sang suami sebenarnya ingin memahami, tetapi ia membutuhkan komunikasi
yang jelas dan terbuka.
Ia berharap pasangannya mau menyampaikan apa yang
diinginkan, karena baginya menebak-nebak justru membuat bingung dan rawan salah
paham. Perbedaan cara berharap inilah yang sering membuat pasangan saling
kecewa, padahal keduanya sama-sama ingin dicintai dan dimengerti.
Komunikasi menjadi salah satu faktor utama yang memicu
situasi tersebut. Banyak pasangan memiliki cara berkomunikasi yang berbeda
dalam mengekspresikan kebutuhan dan harapan. Ada yang berharap pasangannya bisa
memahami secara otomatis, sementara yang lain membutuhkan penjelasan yang jelas
dan langsung.
Ketika perbedaan ini tidak disadari, pesan yang ingin
disampaikan sering kali tidak benar-benar sampai, sehingga memunculkan
kesalahpahaman. Lama-kelamaan, hal ini dapat menumpuk menjadi rasa kecewa,
lelah secara emosional, dan jarak dalam hubungan, meskipun sebenarnya kedua
belah pihak sama-sama ingin menjaga dan memperbaiki relasi.
Situasi ini dapat disiasati dengan membangun komunikasi
yang lebih sadar dan terbuka. Pasangan perlu belajar menyampaikan kebutuhan dan
perasaan secara jujur, tanpa berharap pasangan dapat selalu menebak apa yang
diinginkan. Di sisi lain, mendengarkan dengan penuh perhatian dan tanpa
langsung menyela atau menghakimi juga menjadi kunci penting.
Mengungkapkan perasaan dengan kalimat sederhana, saling
mengonfirmasi pemahaman, serta memberi ruang untuk saling belajar memahami cara
komunikasi masing-masing dapat membantu mengurangi salah paham dan memperkuat
kedekatan emosional dalam hubungan.
Agar komunikasi dapat berjalan dengan baik dan diterima
oleh kedua belah pihak, suami dan istri perlu menyadari bahwa tujuan utama
berkomunikasi bukan untuk memenangkan argumen, melainkan untuk saling memahami.
Menyampaikan kebutuhan sebaiknya dilakukan dengan bahasa yang tenang dan jelas,
menggunakan ungkapan perasaan pribadi, seperti “saya merasa…” atau “saya
berharap…”, bukan kalimat menyalahkan.
Di sisi lain, mendengarkan juga merupakan bagian penting
dari komunikasi. Memberi waktu bagi pasangan untuk berbicara tanpa dipotong,
mencoba memahami sudut pandangnya, serta mengonfirmasi kembali apa yang didengar
dapat membantu mencegah salah paham. Selain itu, memilih waktu yang tepat, saat
emosi lebih stabil dan suasana lebih kondusif, akan membuat pesan lebih mudah
diterima. Ketika suami dan istri sama-sama merasa didengar dan dihargai,
komunikasi tidak hanya menjadi sarana menyampaikan masalah, tetapi juga menjadi
jembatan untuk memperkuat kelekatan dan kerja sama dalam hubungan.
Cara Membangun Komunikasi yang Lebih Sadar dan Efektif
Berikut beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:
1. Sampaikan kebutuhan secara jujur dan langsung
Hindari harapan bahwa pasangan “pasti tahu” apa yang
diinginkan. Lebih baik ungkapkan perasaan dan kebutuhan dengan jelas. Gunakan
kalimat berbasis “aku” (I-statement) untuk mengurangi kesan menyalahkan, misalnya:
“Aku merasa lelah dan butuh dipeluk setelah seharian
bekerja”
daripada “Kamu kok cuek sih, nggak pernah peka!”
2. Dengarkan dengan penuh perhatian (active listening)
Berikan waktu penuh tanpa menyela, tanpa langsung
memberikan solusi atau menghakimi. Tunjukkan bahwa Anda benar-benar hadir
dengan kontak mata, anggukan, dan bahasa tubuh terbuka. Setelah pasangan
selesai, konfirmasikan pemahaman Anda dengan kalimat seperti:
“Jadi yang kamu rasakan adalah… Benar nggak?”
Ini membantu memastikan pesan benar-benar tersampaikan
dan pasangan merasa didengar.
3. Pilih waktu dan suasana yang tepat
Hindari membahas hal sensitif saat emosi sedang tinggi
atau suasana tidak kondusif. Tunggu hingga keduanya lebih tenang agar pesan
dapat diterima dengan baik.
4. Fokus pada pemahaman, bukan kemenangan
Tujuan komunikasi bukan untuk “menang” dalam argumen,
melainkan untuk saling memahami. Ketika salah satu pihak merasa didengar dan
dihargai, emosi negatif biasanya mereda dengan sendirinya, dan solusi pun lebih
mudah ditemukan bersama.
5. Saling belajar memahami gaya masing-masing
Sadari bahwa setiap orang memiliki cara mengekspresikan
dan menerima informasi yang berbeda. Dengan kesediaan untuk saling
menyesuaikan, perbedaan justru bisa menjadi kekuatan, bukan penghalang.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat tidak dibangun dari
kemampuan saling menebak, melainkan dari keberanian untuk saling menyampaikan
dan kesediaan untuk saling mendengarkan. Perbedaan cara berkomunikasi adalah
hal yang wajar dalam setiap pernikahan, namun dapat menjadi kekuatan ketika
disadari dan dikelola bersama. Dengan komunikasi yang lebih terbuka, empatik,
dan penuh rasa hormat, suami dan istri dapat saling belajar memahami kebutuhan
satu sama lain, memperkuat ikatan emosional, serta menumbuhkan rasa aman dan
dicintai dalam hubungan mereka.

Posting Komentar